Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

2026 Ancaman Alih Fungsi Lahan di Bali Semakin Masif , Pertaruhan Eksistensi Subak Perlu Dukungan Kuat

Marsellus Pampur • Kamis, 8 Januari 2026 | 15:31 WIB
TERUS TERGENCET BETON: Lahan pertanian di Padang Sambian, Denpasar Barat sedang digarap petani kota. (foto:Miftahuddin/Radar Bali)
TERUS TERGENCET BETON: Lahan pertanian di Padang Sambian, Denpasar Barat sedang digarap petani kota. (foto:Miftahuddin/Radar Bali)

 

DENPASAR, Radar Bali.id – Pesatnya laju pariwisata Bali di tahun 2026 membawa tantangan besar bagi kelestarian alam Pulau Dewata. Akademisi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Ida Bagus Raka Suardana, memperingatkan bahwa alih fungsi lahan produktif akan semakin masif seiring dengan meningkatnya kebutuhan fasilitas penunjang wisata.

Baca Juga: Protes Alih Fungsi Lahan, Baliho Protes Investor di TNBB Malah Dirusak

Menurut Prof. Raka Suardana, fenomena ini terjadi akibat tekanan permintaan ruang di wilayah strategis, mulai dari pesisir hingga desa penyangga destinasi wisata.

INGATKAN PENTINGNYA PERTANIAN : Akademisi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Ida Bagus Raka Suardana. (marsello pampur)
INGATKAN PENTINGNYA PERTANIAN : Akademisi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Ida Bagus Raka Suardana. (marsello pampur)

"Tingginya nilai ekonomi lahan untuk pariwisata dibandingkan sektor pertanian membuat banyak pemilik lahan tergiur untuk menjual sawah produktif mereka," ujarnya di Denpasar, Kamis (8/1/2026).

Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Pertanian Capai Puluhan Hektare di Klungkung, Ini Data dari Kadistan

Dampaknya tidak main-main. Selain hilangnya bentangan sawah hijau, alih fungsi lahan ini secara langsung mengancam keberlanjutan sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia. Masalah ekologis seperti krisis air, degradasi lingkungan, hingga risiko bencana kini membayangi di depan mata.

"Pengendalian alih fungsi lahan melalui regulasi tata ruang yang tegas menjadi kebutuhan mendesak. Kita harus menjaga keseimbangan pembangunan demi keberlanjutan lingkungan Bali," tegasnya.[*]

Editor : Hari Puspita
#ketahanan pangan #pertanian #Alih fungsi lahan #subak