DENPASAR, Radar Bali.id – Pesatnya laju pariwisata Bali di tahun 2026 membawa tantangan besar bagi kelestarian alam Pulau Dewata. Akademisi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Prof. Ida Bagus Raka Suardana, memperingatkan bahwa alih fungsi lahan produktif akan semakin masif seiring dengan meningkatnya kebutuhan fasilitas penunjang wisata.
Baca Juga: Protes Alih Fungsi Lahan, Baliho Protes Investor di TNBB Malah Dirusak
Menurut Prof. Raka Suardana, fenomena ini terjadi akibat tekanan permintaan ruang di wilayah strategis, mulai dari pesisir hingga desa penyangga destinasi wisata.
"Tingginya nilai ekonomi lahan untuk pariwisata dibandingkan sektor pertanian membuat banyak pemilik lahan tergiur untuk menjual sawah produktif mereka," ujarnya di Denpasar, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Pertanian Capai Puluhan Hektare di Klungkung, Ini Data dari Kadistan
Dampaknya tidak main-main. Selain hilangnya bentangan sawah hijau, alih fungsi lahan ini secara langsung mengancam keberlanjutan sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia. Masalah ekologis seperti krisis air, degradasi lingkungan, hingga risiko bencana kini membayangi di depan mata.
"Pengendalian alih fungsi lahan melalui regulasi tata ruang yang tegas menjadi kebutuhan mendesak. Kita harus menjaga keseimbangan pembangunan demi keberlanjutan lingkungan Bali," tegasnya.[*]
Editor : Hari Puspita