RADAR BALI – Lonjakan harga cabai rawit di Bali hari ini, Rabu (18/2/2026), telah mencapai titik ekstrem.
Di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Badung, harga komoditas dengan nama ilmiah Capsicum frutescens L tersebut menyentuh angka Rp110.000 per kilogram.
Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan pertengahan Februari yang masih berada di kisaran Rp85.000.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa tren kenaikan mulai terasa sekitar empat hari sebelum perayaan Imlek.
Agus, salah satu pedagang bumbu di Pasar Badung, mengakui bahwa kenaikan harga terjadi merata hingga ke tingkat grosir.
"Sekarang satu kilo Rp110 ribu. Naiknya sudah beberapa hari ini. Mungkin karena faktor hujan," ujarnya.
Berdasarkan pendalaman di lapangan, terdapat tiga faktor utama yang memicu meroketnya harga si pedas kecil ini:
Cuaca Ekstrem: Hujan lebat dan angin kencang yang melanda wilayah sentra produksi seperti Tabanan dan Bangli sejak awal tahun menyebabkan gagal panen.
Banyak tanaman cabai rusak, rontok, dan membusuk, sehingga memangkas pasokan hingga 50%.
Permintaan Double Momentum: Lonjakan dipicu oleh dua hari besar keagamaan yang jatuh berdekatan, yaitu Imlek (17 Februari) dan awal Ramadan (19 Februari).
Tingginya permintaan rumah tangga dan industri kuliner tidak sebanding dengan stok yang menipis.
Kendala Distribusi: Cuaca buruk menyulitkan tenaga petik di sawah, yang berimbas pada tersendatnya distribusi dari tingkat petani ke pasar grosir di Denpasar.
Kenaikan harga cabai rawit bertindak sebagai lokomotif bagi komoditas bumbu dapur lainnya.
Berdasarkan data terbaru, beberapa komoditas ikut merangkak naik:
Cabai Merah Besar: Naik ke kisaran Rp50.000 per kg (dari rata-rata Sigapura Rp33.993).
Tomat: Mengalami kenaikan dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 - Rp17.000 per kg.
Bawang Merah & Putih: Kini menyentuh angka Rp50.000 per kg, jauh di atas rata-rata normal di angka Rp33.000-an.
Intervensi Pemerintah dan Strategi Warga
Untuk menekan inflasi di Denpasar yang kini menyentuh 3,6% (di atas rata-rata nasional), pemerintah telah mengambil langkah strategis:
Subsidi Harga: Pemkot Denpasar memberikan subsidi sebesar Rp3.000 per kilogram melalui Unit Usaha Sewaka Jaya di Pasar Badung guna meringankan harga di tingkat pedagang.
Gerakan Pangan Murah (GPM): Pemprov Bali secara serentak mengadakan pasar murah di berbagai titik, termasuk halaman Kantor Gubernur dan Kabupaten Jembrana, untuk menjual bahan pokok di bawah harga pasar.
Pengawasan Satgas Pangan: Pihak kepolisian mulai memantau distributor grosir untuk mencegah praktik penimbunan stok.
Kondisi ini mulai mengubah pola belanja masyarakat. Banyak pembeli yang biasanya membeli satu kilogram kini beralih membeli secara eceran atau hanya sesuai kebutuhan harian demi menyiasati anggaran dapur di tengah persiapan hari raya.***
Editor : Ibnu Yunianto