Roda zaman terus bergerak. Ada yang ikut menggelinding, atau berdiri tegak. Juga ada yang tergelincir, hancur terinjak. Seperti tempat penuh riwayat di Kota Denpasar yang satu ini:Tragia.
SUARA bising alat berat kini menderu di kawasan Pertokoan Kertha Wijaya, Jalan Diponegoro, Denpasar.
Tempat ini dulu sangat ikonik. Salah satu saksi bisu sejarah modernisasi Bali. Di sini, gedung Swalayan Tragia, kini sedang dalam pembongkaran total: dihancurkan karena menua, jadul.
Bagi generasi 1990-an, Tragia bukan sekadar tempat berbelanja. Ia adalah simbol gaya hidup modern pertama di Pulau Dewata. Namun kini, bangunan yang sempat mangkrak bertahun-tahun tersebut mulai diratakan dengan tanah.
Jejak Sejarah: Dari Jeruji Besi ke Rak Belanja
Lahan tempat Tragia berdiri memiliki sejarah panjang yang kelam sekaligus menarik. Jauh sebelum menjadi pusat perbelanjaan, lokasi ini merupakan Penjara Denpasar yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1916.
Baru pada tahun 1983, dilakukan proses tukar guling lahan yang memindahkan fungsi penjara tersebut ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan yang kita kenal sekarang.
Pasca-perpindahan tersebut, kawasan ini disulap menjadi Pertokoan Kertha Wijaya yang diresmikan oleh Gubernur Ida Bagus Mantra pada tahun 1986.
Masa Kejayaan dan Nostalgia
Tragia mencapai puncak kejayaannya pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Sebagai toserba modern pertama, tempat ini menjadi magnet bagi warga Denpasar dan sekitarnya untuk mencicipi pengalaman belanja "satu atap".
Tak hanya menjadi pusat interaksi sosial, Tragia juga menghidupkan ekosistem UMKM di sekelilingnya. Namun, seiring menjamurnya mal dan pusat perbelanjaan baru yang lebih megah, pamor Tragia perlahan meredup hingga akhirnya resmi ditutup dan bangunannya terbengkalai.
Babak Terakhir di Tahun 2026
Setelah lama dibiarkan mangkrak dan hanya dimanfaatkan oleh pedagang tenda di pelatarannya, awal tahun 2026 menjadi babak akhir bagi fisik bangunan ini.
Pantauan di lokasi pada Kamis (12/3/2026), alat berat mulai bekerja intensif merobohkan struktur beton yang tersisa. "Pembongkaran sudah dilakukan bertahap sejak awal tahun, tapi penggunaan alat berat baru dimulai sekitar 12 hari yang lalu," ungkap salah seorang pekerja di lapangan.
Saat ditanya mengenai rencana pembangunan selanjutnya di lahan premium tersebut, para pekerja mengaku tidak tahu-menahu. "Kami hanya bertugas merobohkan bangunan ini sampai bersih," tambahnya.
Meski bangunannya segera hilang dari cakrawala Kota Denpasar, nama Tragia akan tetap melekat dalam ingatan kolektif masyarakat Bali sebagai sang pelopor pusat perbelanjaan modern.[*]
Editor : Hari Puspita