DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Faktor keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tak lagi menjadi alasan untuk tidak produktif. Guna menyiasatinya, para tenaga pendidik atau guru di Bali kini didorong untuk menguasai keterampilan urban farming (pertanian perkotaan) yang nantinya siap ditularkan kepada para siswa.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Edi Santosa mengungkapkan, sejatinya tidak ada kesulitan berarti dalam mempraktikkan urban farming.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada kelihaian memilih komoditas yang pas untuk ditanam di lahan terbatas.
"Karena space kita terbatas, sementara keinginan kita tidak terbatas, kan? Jadi komoditas yang paling mudah dikerjakan biasanya sayuran daun, tomat, terong, hingga timun," ungkap Prof. Edi di sela-sela pelatihan SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) di SMAN 1 Denpasar, Selasa (7/7/2026).
Adapaun SEAMEO adalah lembaga regional di bawah koordinasi SEAMEO yang berfokus pada penelitian, pelatihan, dan diseminasi keanekaragaman hayati tropika.
Hanya saja, hingga saat ini tingkat literasi atau pemahaman guru-guru terhadap filosofi urban farming tergolong masih rendah. Jika dipersentasekan, angkanya baru menyentuh 30 persen.
"Bahkan untuk guru-guru non-SMK pertanian, angkanya kurang dari itu. Mengingat guru sering berganti dan dunia pertanian terus berkembang, makanya kita masifkan training untuk mengingatkan kembali," bebernya.
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, 7–11 Juli 2026 ini juga menjadi jembatan agar para pendidik mendapatkan sertifikat sehingga lebih percaya diri saat mengajar.
Prof Edi menegaskan, intervensi teknologi menjadi kunci utama urban farming. Ketergantungan pada musim kini bisa disiasati. Ia mencontohkan penerapan di Buleleng bulan lalu, di mana sekolah dan warga didorong menanam cabai dan tomat sebagai langkah taktis pengendalian inflasi.
"Model bertanam itu bisa konvensional dengan pot dari barang bekas (circular economy), hidroponik, atau kalau didesain dengan baik bisa menjadi vertical farming. Tidak hanya di ruang terbuka, tapi juga di ruangan kosong dengan tambahan lampu. Produk yang dihasilkan pun hampir 100 persen bebas pestisida," tegas Prof. Edi.
Menariknya, urban farming kini tak lagi identik dengan guru Biologi semata. Pertanian modern yang mengadopsi banyak teknologi membuat guru lintas mata pelajaran tertarik.
Tercatat hanya sekitar 10 persen guru Biologi yang terlibat, sisanya berasal dari guru Matematika, Sosial, hingga Sains. Modul yang diajarkan nantinya bisa diintegrasikan secara luwes menjadi kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler di sekolah.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMAN 1 Denpasar, I Made Rida menyambut antusias gebrakan ini. Terlebih, ini merupakan program kedua dari SEAMEO di sekolahnya setelah sebelumnya mendalami pengelolaan sampah berbasis sumber "Teba Modern".
Secara praktik, SMAN 1 Denpasar rupanya sudah lebih dulu melakukan urban farming. Lokasinya di pojok-pojok sekolah sudah banyak ditanami tomat hingga cabai.
"Sebenarnya kami sudah lama menerapkan hal seperti itu, cuma baru tahu kalau istilah kerennya ini urban farming. Dalam pendidikan karakter, siswa juga sudah diajak mencintai lingkungan dan memilah sampah. Jadi ini sudah sangat nyambung dengan dunia pendidikan kita. Tinggal intensitas sosialisasinya saja diperbanyak sebagai pengingat, dan semoga kelak bisa menular ke sekolah-sekolah lain," tandasnya.***
Editor : M.Ridwan