Filosofi Cangkang Telur dan Silaturahmi Lintas Agama di Ultah ke-16 Arisan Melati Denpasar

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 06:05 WIB
KOMPAK: Penasihat Kak Melati Djoko Moeljono (depan kiri) dan pengurus Kak Melati Denpasar Minggu 6 September 2026. (ist/radarbali.id)
KOMPAK: Penasihat Kak Melati Djoko Moeljono (depan kiri) dan pengurus Kak Melati Denpasar Minggu 6 September 2026. (ist/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com  – Suasana hangat penuh keakraban menyeruak di Jalan Nuansa Kori Barat IV, Banjar Tegal Kori, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Minggu (6/9/2026). Kelompok Arisan Keluarga (KAK) "Melati" merayakan hari jadi ke-16 sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah dengan merangkul ratusan warga dari beragam latar belakang agama.

Dalam perayaan yang berkolaborasi dengan komunitas Bolo-Bolo Surabaya ini, KAK "Melati" membagikan santunan kepada belasan anak yatim piatu dan paket sembako bagi warga sekitar. Tak sekadar berbagi, acara ini menghadirkan tradisi unik berupa pembagian telur yang sarat makna kebersamaan.

Penasehat KAK "Melati", Djoko Moeljono, mengungkapkan bahwa tradisi tersebut membawa pesan moral mendalam tentang keberagaman.

"Telur memiliki cangkang yang membungkusnya, tetapi begitu dibuka, isinya tetap sama. Filosofi ini mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang bagi kita untuk hidup rukun dan saling menghargai," ungkap Djoko.

Sesuai nama KAK "Melati" yang merupakan akronim dari Merajut Tali Silaturahmi Tiada Batas, panitia mengundang sekitar 200 warga yang memeluk agama Islam, Hindu, Kristen, Buddha, hingga Khonghucu untuk membaur dalam kegembiraan bersama.

Ketua KAK "Melati", Lutfi Hidayati, bersyukur seluruh rangkaian acara—mulai dari doa bersama, permainan anak, pembagian suvenir, hingga santunan—berjalan semarak. Ia berharap aksi sosial ini bisa terus menjadi agenda tahunan.

Apresiasi tinggi turut disampaikan Penasehat Warga Muslim Tegal Kori, H. Noerman Effendi. Menurutnya, kerukunan yang ditunjukkan KAK "Melati" menjadi bukti nyata indahnya toleransi di Bali.

"Solidaritas di lingkungan ini sudah terjalin lama. Peringatan Maulid Nabi yang melibatkan lintas umat ini sangat menginspirasi dan patut menjadi percontohan bagi daerah lain," pungkas Noerman.

Sementara itu, Penasihat KAK "Melati", Djoko Moeljono, menjelaskan bahwa nama Melati merupakan singkatan dari Merajut Tali Silaturahmi Tiada Batas, yang menjadi semangat utama organisasi sejak pertama kali berdiri.

Menurutnya, semangat tersebut diwujudkan dengan mengundang masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk bersama-sama mengikuti peringatan Maulid Nabi.

”Rasa kebersamaan ini sebagai bagian tradisi kami saling silaturahmi tanpa batas yang selalu dirangkai dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun,” ujar Djoko.

Acara dimeriahkan dengan bagi-bagi doorprise dan tebak-tebakkan oleh pesulap sehingga membuat suasana tambah seru dan penuh keakraban.

”Semua dapat hadiah,” sebut Djoko. ***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
kak melati Djoko Moeljono Maulid Nabi Muhamad SAW