Krisis BBM Lumpuhkan Pasar Tradisional di Denpasar, Anjlok hingga 65 Persen

Adrian Suwanto • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 02:31 WIB
SEMPAT SEPI KARENA KRISIS BBM : Pasar Anyar Sari, Ubung, Denpasar. (foto:Adrian Suwanto)
SEMPAT SEPI KARENA KRISIS BBM : Pasar Anyar Sari, Ubung, Denpasar. (foto:Adrian Suwanto)

DENPASAR, Radar Bali.id – Dampak kelangkaan dan antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Denpasar pada Senin, 19/10/2026, kian meluas.

Baca Juga: Terdampak BBM Langka, Harga Sayuran di Pasar Kidul Bangli Melonjak, Omzet Pedagang Anjlok

Dampak krisis BBM ini kini memukul sektor perdagangan tradisional hingga menyebabkan tingkat kunjungan pembeli merosot drastis hingga 65 persen di pasar-pasar yang dikelola Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar.

Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas pasar telah terasa sejak beberapa hari terakhir. Kondisi paling memprihatinkan terlihat di Pasar Kumbasari Malam yang biasanya dipadati pengunjung, kini mendadak sepi lengang.

"Hampir setiap hari kami menerima laporan berupa foto dan rekaman video dari masing-masing pasar yang kondisinya sepi sekali," ujar Suadi.

Kelumpuhan aktivitas perdagangan ini terpicu oleh terganggunya rantai pasokan dan mobilitas. Banyak pedagang yang mengandalkan angkutan armada seperti mobil pick-up tak bisa beroperasi akibat kehabisan bahan bakar.

Kondisi ini seperti dialami Nyoman Sari, 42, pedagang sayur bermobil asal Bedugul di Pasar Anyar Ubung. Ibu dua anak ini terpaksa absen berjualan karena mobil angkutnya kehabisan bensin.

Selain itu, melonjaknya harga sayur dari tingkat petani—yang dipicu faktor cuaca buruk dan gagal panen—makin memperberat beban pedagang.

Tak hanya dari Tabanan, pasokan kebutuhan pokok dari Karangasem, Buleleng, hingga pasokan janur dari Jawa turut tertahan. Keterlambatan distribusi tersebut diperparah oleh antrean penyeberangan di Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk yang belum sepenuhnya normal.

"Kalaupun ada pedagang yang masih berjualan karena memiliki stok barang, pembelinya yang tidak ada. Jadi kami sangat terdampak dari sisi tingkat kunjungan," tegas Suadi.

Suadi berharap pihak pemerintah bersama Pertamina dapat bergerak cepat menjaga kontinuitas pasokan BBM di Bali agar denyut nadi perekonomian dan pariwisata daerah tidak terus terganggu. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
krisis BBM di Bali pd pasar denpasar pasar tradisional