Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sabha Sulinggih Hindu Dresta Bali Dibentuk, Klaim Banyak Dukungan

Yoyo Raharyo • Senin, 28 Februari 2022 | 09:15 WIB
sabha-sulinggih-hindu-dresta-bali-dibentuk-klaim-banyak-dukungan
sabha-sulinggih-hindu-dresta-bali-dibentuk-klaim-banyak-dukungan

DENPASAR - Terbentuknya Sabha Kretha Sulinggih Hindu Dresta Bali yang dibentuk murni oleh 9 sulinggih dari pesemetonan ini mendapatkan banyak dukungan, salah satunya dari dari Persaudaraan Hindu Dharma Nusantara.


 


Di mana diharapkan dibentuknya Sabha Kretha Sulinggih Hindu Dresta dapat mengayomi umat Hindu Dresta Bali baik di Bali dan luar Bali di seluruh Indonesia.


 


Jro Bauddha Suena selaku Sekretaris Jenderal Persaudaraan Hindu Dharma Nusantara mengatakan keberadaan Sabha khusus para sulinggih Hindu Dresta Bali yang Dang Kretha nya Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda ini sangat di perlukan untuk menjaga kerajegan agama Hindu dresta Bali, adat-istiadat, dresta, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal yang diwariskan oleh Leluhur Lelangit Bali.


 


"Ini dapat mengukuhkan dan menguatkan secara sungguh-sungguh kedudukan, peran adat Bali sebagai dasar pedoman mengukuhkan pelaksanaan Dresta gama-nigama Bali dan menjaga tradisi budaya Hindu Dresta Bali dari pengaruh ajaran Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON) yang saat ini banyak di ikuti oleh para tokoh dan akademisi yang berasal dari Bali sendiri," katanya. 


 


Baginya, harus ada Sabha Sulinggih khusus untuk mengayomi umat Hindu Dresta Bali, biarkan PHDI yang mengurus umat Hindu Dharma secara nasional yang berasal dari beragam suku dan tradisi.


 


"Hindu Dresta Bali jangan cair dengan Hindu transnasional atau versi sampradaya asing; Sai Baba dan Hare Khrisna, ini sangat berbahaya. Di India saja sampradaya asing bikin keruh dengan Hindu tradisional. Hindu dunia rugi besar karena Bhagawadgita diklaim sebagai kitabnya Hare Krishna (ISKCON), padahal Bhagawadgita itu kitab universal," tegas Jro Bauddha Suena.


 


Lanjutnya, Hindu Kaharingan yang umatnya di Kalimantan Tengah kurang lebih 200.000 orang punya khusus Majelis Besar Hindu Kaharingan, masa kita umat Hindu Dresta Bali yang umatnya di Bali saja ada sekitar 3,7 juta orang dan yang tinggal di luar Bali hampir 1 juta lebih tidak punya Majelis khusus Hindu Dresta Bali, sehingga keberadaan Sabha Kretha Sulinggih Hindu Dresta Bali ini tidak perlu di risaukan oleh PHDI versi Mahasabha XII, buktinya Majelis Besar Hindu Kaharingan dan PHDI Kalimantan Tengah tetap bisa bersinergi bersama sama, selama punya visi dan misi yang sama untuk melayani umat dan menjaga adat isitiadat budaya Nusantara dari pengaruh ajaran organisasi transnasional .


 


Ia mengharapkan, Parisadha atau lembaga kesulinggihan seperti Sabha Kretha Sulinggih Hindu Dresta Bali ke depan mesti tetap konsisten sebagai lembaga kasulinggihan yang menegakkan tattwa, susastra, dresta, ageman gama Bali (Hindu Dresta Bali) dan Hindu Nusantara. Walaka hanya supporting system,tidak masuk dalam struktur kelembagaan, sehingga terhindar dari intrik politik para walaka nya.


 


Model organisasi Sabha Kretha ini bisa dikembangkan ke Nusantara, sesuai kearifan lokal/dresta masing-masing tradisi. Dengan demikian ke depan ada Sabha Sulinggih (nama organisasi bisa disesuaikan) Kaharingan, Dayak, Sunda, Jawa, Kei, dll. Nusantara berbhinneka dlm ketunggal-ikaan Nusantara/Indonesia.


 


"Jadi spirit Parisadha secara halus dimurnikan kembali sebagai lembaga sulinggih. Kalo PHDI masih dipertahankan, biarkan jadi ormas saja yang diisi para walaka,” kata dia.


 


Sebaiknya, kata dia, sulinggih tidak ikut-ikutan dalam PHDI. Katanya, PHDI belakangan sudah menyerupai majelis agama lain yang didominasi pembaca-pembaca pengetahuan agama (baru sebatas tahu/nawang), tapi belum mampu melakonkan (bisa), apalagi berwenang (dadi) menentukan.


 


“Akibatnya, langkahnya menjadi tak patut dan tak pantas (pantes) utamanya moralitas diabaikan karena memenuhi kepentingan organisasi transnasional asing. Saya pribadi punya mimpi agar Parisada atau lembaga sejenisnya murni sebagai lembaga kesulinggihan sebagaimana amanat Manawa Dharma Sastra," tutup Jro Bauddha Suena.

Editor : Yoyo Raharyo
#hindu dresta bali