Kepala SMK PGRI 1 Gianyar, Made Dwi Ariyuda menyatakan, terkait pembayaran SPP, para orang tua dan wali sudah datang.
“Mereka sudah konfirmasi, sudah selesai semuanya. Tunggakan, masih ada tapi bulan Juni,” ujarnya di sela Farewell Party angkatan 34 bertema Make a Dream Come True.
Dalam acara kemarin, 225 orang siswa kelas XII (kelas 3 SMK) dilepas. Dia menyatakan, acara ini pelepasan siswa, bukan kelulusan. Pihaknya melepas siswa kelas 12.
“Kalau belum dinyatakan kompeten atau tidak lulus, akan diuji lagi. Kayak remidi,” ungkapnya.
Kelulusan akan diumumkan pada 3 Juni mendatang. Untuk antisipasi corat-coret, pihaknya umumkan online. Sekarang hanya dilepas saja.
Mengenai pelepasan, siswa putri mengenakan kebaya atas permintaan anak-anak. Dikatakan, semula pakaian sekolah, tapi dari beberapa anak minta pakai kebaya dan full dress. Maka pihaknya pun mengambil keputusan secara voting atau suara terbanyak.
Dia menjelaskan, sempat terpikir siswa yang dilepas mengenakan kebaya, kemampuan seluruh siswa tidak sama. Akhirnya 72 persen anak pilih kebaya.
“Bisa kebaya biasa, yang putra pakai jas sekolah,” ungkapnya.
Disinggung mengenai disiplin, siswa sangat baik. “Tiap hari, kami didik mereka, percuma pintar kalau tidak disiplin. Kalau ada terlambat, trisandya dulu, suruh nulis di Perpustakaan,” terangnya.
Ketua Komite SMK PGRI 1 Gianyar, Anak Agung Gede Geria menambahkan, SMK PGRI 1 membantu masyarakat.
“Karena uang komite (SPP) paling murah dibandingkan SMK lainnya,” jelasnya.
Bahkan, selama tiga tahun terakhir, kelas X, XI dan kelas XII, membayar sama, per orang Rp 200 ribu per bulan. “Kami pandang biaya Rp 200 ribu sebulan itu, bagi orang tua pas,” jelasnya.
Kini, persoalan itu sudah bisa dipahami oleh para orang tua yang akhirnya membayar uang komite berupa SPP. “Kami sekolah swasta, operasional itu dari uang komite,” pungkasnya.
Sementara itu, meski biaya di SMK PGRI 1 Gianyar tergolong terjangkau, sekolah memiliki hotel untuk tempat praktik.
“Kitchen kami standar industri dan fasilitas hotel bintang 5. Saat anak-anak terjun ke dunia industri yang sebenarnya mereka tidak kaget lagi mengoperasionalkan peralatan canggih,” imbuh Dwi Ariyuda.
Sementara, di jurusan Akuntansi, sekolah memfasilitasi siswa sebuah Bank Mini. “Pencetusnya Kepsek yang lama. Jadi siswa menabung di Bank Mini, pembayaran SPP semua di Bank Mini. Kita sentralisasi segala bentuk pembayaran, yang praktek anak-anak,” terangnya.
Untuk jurusan Tata Boga ditonjolkan teaching factory mulai Tahun 2021. Yakni anak-anak praktik dan langsung belajar cara menjual, bukan semata jualan.
“Melainkan mereka harus paham cara menghitung persediaan bahan, hitung stok, resep, berapa habis biaya dan berapa profit yang didapat,” pungkasnya. (dra) Editor : Yoyo Raharyo