Salah seorang petani jeruk di Banjar Dinas Untalan, Putu Rio mengatakan, kondisi curah hujan yang tinggi mengakibatkan daun bunga jeruk rontok. Tak hanya itu, beberapa buah jeruk yang masih kecil jatuh ke tanah karena membusuk. “Tidak bisa besar buahnya. Jadinya belum waktunya sudah berjatuhan,” ujarnya Selasa (13/12).
Putu Rio menambahkan, dalam setahun, biasanya petani jeruk di Banjar Dinas Untalan bisa memanen tiga kali. Namun untuk tahun ini hanya bisa dua kali. “Saat ini sudah berbuah. Biasanya 4 bulan sekali panen. Karena cuaca hujan ini jadi hanya bisa dua kali panen,” terangnya.
Praktis, penghasilan para petani dari tanaman jeruk hilang. Putu Rio sendiri memiliki 12 are tanaman jeruk. Biasanya dalam sekali panen, ia bisa mendapat hasil empat ton. Namun saat ini hanya mendapat satu ton saja. “Ya kalau diungkan hanya dapat Rp 15 juta. Biasanya bisa sampai Rp 60 juta,” ungkapnya.
Disinggung kerugian, Putu Rio mengaku tidak terlalu merugi. Mengingat tanaman jeruk tidak seperti tanaman lain yang sekali berbuah langsung mati. “Kalau untuk jeruk kan gagal panen saja. Mungkin kerugiannya hilang pendapatan itu saja,” imbuhnya.
Banjar Dinas Untalan sendiri sebagian besar menanam buah jeruk. Dengan lokasi ketinggian di bawah kaki gunung agung, warga di sana menanam buah jeruk dengan sistem tumpang sari. “Biasanya ada tanaman lain selain jeruk dalam satu lahan,” tandasnya. (zul/rid) Editor : M.Ridwan