Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Update IHSG 29 April: Tekanan Jual Hantui BBRI dan BBNI, Waktunya Serok BBCA dan BMRI?

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 29 April 2026 | 08:36 WIB
Prediksi IHSG hari ini 29 April 2026: Analisis teknikal saham BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI di tengah tekanan jual asing.
Prediksi IHSG hari ini 29 April 2026: Analisis teknikal saham BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI di tengah tekanan jual asing.

 

RADAR BALI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan sideways pada perdagangan Rabu, 29 April 2026.

Meski tekanan jual asing masih membayangi, intensitasnya diperkirakan sedikit mereda dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Performa IHSG dan Sektor Perbankan

Pada penutupan Selasa (28/4), IHSG parkir di level 7.072,3 atau melemah 0,48 %. 

Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif mencapai Rp 2,35 triliun di seluruh pasar.

Sektor perbankan menjadi penekan utama indeks. Saham-saham Big Caps rontok seiring revisi outlook kredit oleh lembaga pemeringkat internasional dari "Stabil" menjadi "Negatif".

BBRI: Melemah tajam 3,23 % ke level Rp 4.500.

BMRI: Turun 2,11 % ke level Rp 6.950.

BBNI: Terkoreksi 1,85 % ke level Rp 5.300.

BBCA: Tampil lebih defensif dengan koreksi tipis 0,51 % ke level Rp 9.675.

Analisis Global dan Emerging Markets

Tekanan pada bursa domestik tidak terlepas dari kondisi Emerging Markets (EM) Asia yang sedang menghadapi periode berat.

IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi EM menjadi 3,9 % untuk tahun 2026.

Sentimen risk-off membuat investor global memindahkan dana dari pasar berisiko seperti Indonesia ke aset yang lebih aman (safe haven) di pasar maju.

Hal ini diperparah dengan posisi Rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.200 - Rp 17.300 per dolar AS, memicu kekhawatiran currency loss bagi investor mancanegara.

Selain itu, keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia periode Mei 2026 menambah ketidakpastian regulasi, khususnya terkait aturan free float dan transparansi kepemilikan saham.

Faktor Penahan dan Harapan Rebound

Meski dibayangi sentimen negatif, terdapat beberapa faktor yang dapat menahan kejatuhan indeks lebih dalam hari ini:

Kondisi Oversold: Secara teknikal, indikator Stochastic RSI menunjukkan saham-saham perbankan sudah masuk area jenuh jual, sehingga terbuka ruang untuk teknikal rebound.

Geopolitik: Pasar menantikan sinyal damai di Timur Tengah. Kesepakatan terkait Selat Hormuz di bawah pemerintahan Presiden Trump diharapkan mampu mendinginkan harga minyak dunia.

Kebijakan Moneter: Investor menanti hasil pertemuan The Fed dan mencermati kebijakan Bank of Japan yang mempertahankan suku bunga di level 0,75 %.

Proyeksi Hari Ini

IHSG hari ini diproyeksikan bergerak pada rentang 7.000 hingga 7.200. Level 7.000 menjadi support psikologis yang krusial untuk diperhatikan.

Radar Saham Hari Ini:

BRIS (PT Bank Syariah Indonesia Tbk): Menunjukkan resiliensi dan fundamental solid.

TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk)

ASII (PT Astra International Tbk)

INET (PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk)

Investor disarankan untuk tetap waspada dan melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat dan dividend yield tinggi, sembari memantau aliran dana asing di saham-saham lapis pertama.***

Editor : Ibnu Yunianto
#saham perbankan #prediksi saham #analisis pasar modal #ihsg #investasi