RADAR BALI – Pasar modal Indonesia mengalami hari yang kelam pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga 2,5% ke level 6.994.
Tekanan jual yang masif sudah terasa bahkan sebelum bel penutupan berbunyi, dengan nilai transaksi fantastis menembus angka Rp 35,81 triliun.
Pemicu utama kepanikan pasar kali ini datang dari internal pemerintah. Pelaku pasar bereaksi negatif terhadap pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai rencana penerapan pajak keuntungan tidak terduga atau windfall profit tax.
Pajak ini rencananya akan menyasar sektor batu bara dan nikel guna menambal subsidi energi yang membengkak akibat gejolak harga minyak dunia.
Situasi kian memanas setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melontarkan wacana untuk mengubah sistem bagi hasil industri pertambangan minerba agar serupa dengan sektor migas, melalui skema cost recovery atau gross split.
Kebijakan yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 ini dianggap sebagai langkah agresif pemerintah dalam mengejar target rasio penerimaan negara.
Akibatnya, saham-saham raksasa di sektor komoditas bertumbangan. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi pemberat indeks paling besar, disusul oleh emiten kakap lainnya seperti Barito Renewables Energy (BREN), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Amman Mineral (AMMN).
Harga komoditas global seperti nikel, nikel, dan batu bara yang ikut ambruk di sesi kedua perdagangan semakin memperparah keadaan.
Kondisi domestik yang tertekan kian diperkeruh oleh kabar dari Timur Tengah. Laporan saling tembak antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz serta serangan di langit Teheran membuat investor global cenderung bermain aman.
Sentimen geopolitik ini menyeret bursa Asia lainnya seperti ASX200 dan Nikkei ke zona merah, yang diikuti dengan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di bursa Indonesia.
Sepanjang hari ini, tercatat ada 55,77 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui 2,80 juta kali transaksi.
Sebanyak 417 saham melemah, yang mencerminkan betapa dominannya sentimen negatif di pasar hari ini. Penurunan ini juga menggerus kapitalisasi pasar IHSG ke kisaran Rp 12.200 triliun.
Menutup pekan yang berat ini, para investor kini mengalihkan fokus pada data cadangan devisa serta pengumuman indeks MSCI pada pekan depan.
Mengingat pekan depan perdagangan hanya berlangsung selama tiga hari, pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin masih akan berlanjut.***
Editor : Ibnu Yunianto