Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

BBCA Kena Badai Profit Taking, IHSG Rekor Terendah dalam 5 Tahun

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 3 Juni 2026 | 14:58 WIB
MSCI Coret Belasan Saham RI, IHSG Dibayangi Tren Bearish
MSCI Coret Belasan Saham RI, IHSG Dibayangi Tren Bearish

 

RADAR BALI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada penutupan perdagangan, Rabu, 3 Juni 2026.

Setelah sempat dibuka menguat dan menghirup zona hijau di pagi hari hingga menyentuh level 6.207,10, indeks langsung berbalik arah akibat tekanan jual masif hingga terlempar dari level psikologis 6.000.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hari ini dibuka di level 6.195,43 dan ditutup anjlok signifikan sebesar 4,94 % atau terpangkas 305,94 poin ke level 5.889,48. Posisi tersebut membawa IHSG jatuh ke area terendah dalam lima tahun terakhir.

Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif dengan menyentuh level tertinggi di 6.213,80 pada awal sesi, sebelum akhirnya merosot ke level terendah harian di 5.841,99.

Nilai transaksi pasar mencapai Rp 50,15 triliun dengan volume perdagangan 472,15 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 2,38 juta kali.

Ambruknya indeks hari ini diseret oleh rontoknya ratusan saham. Tercatat lebih dari 710 saham ditutup memerah dan hanya sekitar 35 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Sektor barang baku memimpin kejatuhan dengan koreksi lebih dari 10%, disusul oleh sektor energi dan infrastruktur.

Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban

Kejatuhan mendalam IHSG utamanya dikontribusikan oleh aksi lepas saham pada emiten berkapitalisasi pasar raksasa (big caps). Salah satu yang menjadi motor pelemahan indeks adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Saham BBCA menjadi target utama aksi ambil untung (profit taking) dan pengosongan portofolio oleh investor asing. Pada paruh pertama perdagangan saja, nilai jual bersih (net sell) asing di saham perbankan swasta terbesar ini sudah menembus angka ratusan miliar rupiah.

Hingga akhir sesi, saham BBCA ditutup melemah 3,43% atau turun 200 poin ke level Rp 5.625 per lembar saham. 

Sepanjang perdagangan, BBCA sempat merosot hingga ke level terendah harian di Rp5.550, yang sekaligus menjadi level terendah baru dalam 52 minggu terakhir.

Total volume transaksi BBCA mencapai 244,59 juta saham dengan nilai kapitalisasi pasar yang kini berada di kisaran Rp 689,96 triliun.

Selain BBCA, sejumlah saham berkapitalisasi jumbo lainnya yang ikut menjadi beban berat (laggard) indeks

Saham-saham perbankan besar kembali menjadi sasaran utama pelepasan asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang amblas 14,91%, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 13,47%.

Saham TPIA anjlok 13,42 persen ke level Rp1.645 dengan nilai transaksi mencapai Rp1,89 triliun. Sedangkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 13,79 persen ke level Rp750.

Sementara itu, predikat top losers hari ini ditempati oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang anjlok hingga 15,00%.

Tertekan Sentimen Kurs Rupiah

Koreksi tajam yang dialami BBCA dan IHSG secara keseluruhan lebih dipicu oleh faktor makroekonomi dan psikologis pasar, bukan karena masalah fundamental internal emiten.

Sentimen pasar domestik hari ini terbebani oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat anjlok ke area Rp 17.928 per dolar AS pada perdagangan siang hari. 

Pelemahan mata uang garuda yang cukup tajam ini memicu kekhawatiran pelaku pasar, terutama investor global, terkait risiko makroekonomi dan potensi tekanan beban pada emiten yang memiliki eksposur utang atau biaya operasional dalam dolar AS.

Selain itu, beredar rumor di pasar keuangan mengenai laporan pemeringkatan dari S&P Global Ratings pada Juni yang mengindikasikan kurangnya kepercayaan pada stabilitas ekonomi.

Hal lain adalah rilis Moody's yang menurunkan peringkat Danantara Investment Management menjadi Baa2 dengan outlook negatif.

Penyesuaian peringkat lembaga pengelola dana strategis pemerintah tersebut menambah ketidakpastian prospek aliran investasi di masa depan.

Meskipun secara teknikal pergerakan harga saham BBCA sedang tertekan, kinerja operasional dan profitabilitas bank tersebut sebenarnya masih sangat kokoh.

Hingga April 2026, BBCA tercatat masih membukukan pertumbuhan positif dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 20,81 triliun.***

Editor : Ibnu Yunianto
#profit taking #kurs rupiah #BBCA #ihsg hari ini #dollar hari ini