RADAR BALI - Pasar saham domestik kembali berada di bawah tekanan besar. Melanjutkan koreksi tajam dari hari sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok secara signifikan pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan pada sesi pagi sekitar pukul 10.00 WIB/WITA, IHSG amblas ke posisi 5.645,56. Angka ini menunjukkan pelemahan tajam sebesar 4,97 persen atau merosot sekitar 295 poin dibandingkan dengan posisi penutupan kemarin yang berada di level 5.941,07.
Sejak bel pembukaan berbunyi, indeks sebenarnya sempat dibuka pada level 5.919,56 dan menyentuh posisi tertinggi di 5.924,50. Namun, aksi jual yang masif langsung menyeret indeks ke zona merah hingga sempat menyentuh level terendah di 5.647,08.
Amblesnya indeks ke kisaran level 5.600-an ini dipicu oleh akumulasi sejumlah sentimen negatif. Selain fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah, pasar juga diguncang oleh aksi keluar dana asing akibat penyesuaian (rebalancing) indeks global MSCI.
Sentimen dalam negeri turut memperkeruh suasana, terutama setelah munculnya usulan regulasi skema royalti progresif baru untuk komoditas mineral dari Kementerian ESDM.
Kombinasi faktor tersebut memicu tekanan jual masif di hampir seluruh sektor, dengan dampak paling berat dirasakan oleh sektor bahan baku (komoditas dan tambang), infrastruktur, energi, serta jajaran saham berkapitalisasi besar (big caps).
Di sektor tambang mineral dan energi, usulan kenaikan royalti tembaga sukses memicu aksi lego saham secara besar-besaran. Kondisi ini diperparah oleh sentimen pencoretan dari indeks MSCI per akhir Mei lalu yang efeknya masih terasa.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi salah satu beban utama indeks setelah sahamnya anjlok mendekati batas ARB sebesar 14,91 persen ke level Rp 3.310.
Langkah penurunan ini diikuti oleh PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang merosot tajam dan menggerus poin indeks cukup dalam, serta PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang melemah 14,96 persen ke posisi Rp108 per saham dengan volume transaksi yang gemuk.
Tekanan juga menjalar ke sektor infrastruktur dan konglomerasi besar. Saham andalan Grup Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), kembali mengalami aksi jual lanjutan pasca penyesuaian indeks global, menjadikannya salah satu penekan utama bobot IHSG pagi ini.
Sementara itu, sektor keuangan tidak luput dari koreksi. Pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis baru memaksa investor asing mengurangi kepemilikan mereka pada saham-saham perbankan big caps yang biasanya menjadi motor penggerak pasar.
Akibatnya, saham tirai biru seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami fluktuasi tajam dengan kecenderungan tekanan jual yang tinggi sejak awal perdagangan.
Di sektor telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga terlempar ke jajaran top losers. Saham pelat merah ini menyumbang pelemahan poin yang signifikan akibat aksi ambil untung (profit taking) dan langkah pengurangan risiko oleh investor global di pasar negara berkembang (emerging markets).
Secara sektoral, indeks sektor bahan baku (IDXBASIC) mencatatkan koreksi paling dalam, disusul oleh indeks saham-saham pertumbuhan (IDXSHAGROW).
Melihat situasi pasar yang penuh ketidakpastian, mayoritas pelaku pasar saat ini memilih untuk bermain aman (risk-off) sembari mencermati stabilitas kurs rupiah dan kejelasan kebijakan fiskal domestik ke depan.***
Editor : Ibnu Yunianto