RADAR BALI – Tekanan jual masif belum beranjak dari sektor perbankan tanah air. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mengalami koreksi cukup signifikan dan tertahan di zona merah pada perdagangan hari ini.
Gempuran aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) yang masif ditengarai menjadi motor utama kejatuhan harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Berdasarkan data pasar pada perdagangan Kamis (4/6) hingga pukul 14.00 WIB, saham BBCA berada di level Rp 5.350 per lembar. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar Rp 175 atau melemah 3,17 persen dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp 5.525.
Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi, saham BBCA dibuka di level Rp 5.475 dan bergerak fluktuatif di rentang Rp 5.300 hingga Rp 5.600.
Tingginya volume perdagangan yang meroket hingga mencapai sekitar 361,2 juta lembar saham menunjukkan bahwa tekanan jual dari pelaku pasar masih sangat dominan hingga menjelang akhir perdagangan sore.
Penurunan tajam hari ini sekaligus melanjutkan tren negatif dari perdagangan Rabu kemarin yang sudah terkoreksi sedalam 5,15 persen.
Sentimen negatif ini dipicu oleh gempuran foreign net sell yang sangat masif di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah di atas Rp18.000 per dolar AS serta ketatnya likuiditas pasar modal.
Jika dikalkulasi secara year-to-date (YTD) sejak awal tahun hingga pekan pertama Juni 2026, akumulasi modal asing yang keluar dari saham BBCA telah menembus angka kisaran Rp 11,6 triliun di pasar reguler.
Kondisi tersebut otomatis membuat sektor perbankan, khususnya kelompok big banks, berada dalam posisi sulit. Tekanan jual massal ini bahkan sempat mendorong harga BBCA merosot hingga ke level Rp 5.300 pada titik terendahnya hari ini, yang menjadi area terendah baru bagi BBCA dalam rentang waktu 5 tahun terakhir.
Secara indikator teknikal, kejatuhan harga yang sempat menembus ke bawah level psikologis Rp 5.400 mempertegas bahwa saham BBCA saat ini berada dalam kondisi bearish jangka pendek.
Menghadapi situasi fluktuatif ini, sejumlah analis menyarankan pelaku pasar untuk lebih berhati-hati, memperhatikan area support kuat berikutnya, dan tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat sebelum memutuskan untuk kembali melakukan akumulasi pasif.***
Editor : Ibnu Yunianto