Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

IHSG Hari Ini Rebound ke 5.904 di Tengah Tekanan Suku Bunga The Fed dan Rupiah Rp17.952

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 25 Juni 2026 | 09:42 WIB
Indeks harga saham gabungan hari ini menguat setelah mengalami penurunan cukup tajam menyusul pengumuman MSCI menunda keputusan tentang status pasar keuangan Indonesia.
Indeks harga saham gabungan hari ini menguat setelah mengalami penurunan cukup tajam menyusul pengumuman MSCI menunda keputusan tentang status pasar keuangan Indonesia.

 

RADAR BALI – Pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Setelah sempat terkapar dan mencatatkan performa buruk akibat sentimen global dan tekanan eksternal terkait kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Indeks

Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bergerak fluktuatif dan cenderung berbalik arah (rebound) ke zona hijau.

Pada perdagangan Rabu (24/6/2026), IHSG ditutup merosot tajam 3,56% atau anjlok 217,45 poin ke level 5.883,88.

Kejatuhan ini dipicu oleh aksi jual masif setelah MSCI memutuskan untuk menunda keputusan final terkait status pasar saham Indonesia hingga November 2026.

Penundaan ini sempat menempatkan IHSG sebagai indeks saham dengan kinerja terburuk di pasar berkembang (emerging market) Asia.

Sentimen MSCI dan Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Berdasarkan hasil Tinjauan Klasifikasi Pasar 2026, MSCI sebenarnya masih menetapkan status Indonesia di kelompok Emerging Market.

Pengelola indeks global tersebut juga mengapresiasi langkah reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas Indonesia sejak awal tahun.

Namun, MSCI tetap membuka peluang untuk mereklasifikasi pasar Indonesia turun kelas ke Frontier Market jika reformasi tidak berjalan konsisten. Ketidakpastian inilah yang memicu kepanikan sesaat di pasar eksternal.

Di sisi lain, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran mulai memberikan ruang napas bagi pasar.

Perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada Washington, menanti arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Sikap hawkish atau potensi kenaikan suku bunga The Fed secara langsung menekan mata uang regional.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,52% (93 poin) ke level Rp17.952 per dolar AS, menggenapi depresiasi sebesar 7,63% sejak awal tahun.

Tekanan serupa juga dialami mata uang Asia-Pasifik lainnya, dengan pelemahan terdalam dipimpin oleh won Korea sebesar 0,87%.

Bagi domestik sendiri kalau suku bunga The Fed naik, USD meningkat, rupiah kembali terdepresiasi.

Kondisi Pasar Terkini: IHSG Berusaha Bangkit

Memasuki sesi perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi, IHSG sempat tergelincir kembali ke zona merah di posisi 5.873,07 pada pembukaan.

Kendati demikian, tekanan tersebut perlahan mereda berkat aksi beli selektif. IHSG terpantau menguat 21,32 poin (0,36%) ke level 5.904,71.

Data perdagangan menunjukkan 267 saham bergerak naik, 170 saham mengalami penurunan, dan 188 saham lainnya stagnan.

Nilai transaksi awal sesi mencapai Rp1,09 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 1,63 mliar saham.

1. Sektor Penggerak Bursa

Penguatan indeks pagi ini dimotori oleh tujuh indeks sektoral:

Sektor Transportasi: Memimpin penguatan tajam sebesar 2,45%.

Sektor Properti: Naik 0,50%.

Sektor Keuangan: Menguat 0,49%.

Penahan Laju Indeks: Sektor barang baku menjadi pemberat akibat koreksi sebesar 0,70%.

2. Aktivitas Transaksi dan Arus Modal Asing

Meskipun indeks mulai membaik, pasar masih dibayangi oleh tekanan jual bersih (net sell) investor asing yang cukup masif.

Sehari sebelumnya, aliran dana asing yang keluar dari bursa domestik berkisar antara Rp1,17 triliun hingga Rp1,23 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar (blue-chip) seperti BBRI, TPIA, AMMN, BMRI, dan BUMI menjadi target utama pelepasan portofolio asing.

Gerak Saham LQ45 dan Rekomendasi Teknikal

Di tengah upaya pemulihan indeks domestik, mayoritas bursa Asia-Pasifik justru bergerak kompak di zona hijau pagi ini, didorong oleh lonjakan indeks Kospi Korea Selatan dan Nikkei Jepang.

Di dalam negeri, berikut adalah jajaran saham berlikuiditas tinggi (LQ45) yang menjadi penentu arah pasar:

Top Gainers (LQ45)                  Kenaikan    Top Losers (LQ45)                          Penurunan

BRPT                                        +2,97%      HRTA                                              -4,37%
AMRT                                       +1,81%      ANTM                                            -3,64%
CUAN                                       +1,44%      MDKA                                            -2,94%

Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan konsolidasi sepanjang hari ini.

Kisaran area support diproyeksikan berada di rentang 5.840–5.845, sementara area resistance terdekat berada di kisaran 5.993–6.010.

Pelaku pasar disarankan untuk mencermati saham-saham dengan fundamental kuat yang harganya sudah masuk dalam area jenuh jual (buy on weakness).***

Editor : Ibnu Yunianto
#Suku Bunga The Fed #msci ihsg #kurs rupiah #ihsg hari ini #Saham LQ45