BADUNG, radarbali.jawapos.com – PT BPR Lestari Bali kembali menggelar Bali Business Roundtable (BBRT) untuk kedelapan kalinya.
Dihadiri ratusan nasabah prioritas BPR Lestari Bali, dalam kegiatan yang berlangsung di Renaissance Bali Nusa Dua Resort, Rabu (23/9/2026) tersebut, Direktur Utama/CEO PT BPR Lestari Bali Trisno Herman Dinijanto mengajak nasabah dan pelaku usaha tidak terlalu larut dalam ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Menurutnya, kondisi eksternal memang sulit dikendalikan, namun perusahaan masih memiliki ruang untuk memperkuat diri dari dalam.
Dalam sambutannya, Trisno mengatakan BBRT merupakan bentuk apresiasi kepada nasabah yang telah menemani perjalanan BPR Lestari.
Acara BBRT ke-8 kali ini pun mengangkat tema “Mengintip Dapur Bisnis China: Bertahan & Bertumbuh di Tengah Perubahan & Krisis”, dengan James Gwee sebagai narasumber dan Alex P. Chandra sebagai moderator.
Ia menyebut tema kegiatan ini sengaja diarahkan pada pembelajaran dari dunia bisnis China, berbeda dengan BBRT sebelumnya yang lebih banyak menghadirkan pakar ekonomi atau keuangan.
”Kondisi ekonomi yang tidak menentu, gejolak geopolitik yang tidak jelas kapan akan berakhir, ditambah lagi pidato-pidato pemimpin yang membuat kita bimbang dan galau, membuat kita merasa seperti tersesat di tengah-tengah hutan Amazon,” ujarnya.
Karena itu, Trisno mengajak peserta melihat kembali kondisi internal perusahaan. Mulai dari pola bisnis, manajemen hingga kemampuan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Ia menilai penguatan dari dalam menjadi salah satu cara agar perusahaan tetap mampu menghadapi perubahan kondisi eksternal.
”Kami mengajak ibu dan bapak sekalian untuk melihat ke dalam, ke perusahaan kita, ke pola bisnis kita, manajemen kita, apa yang bisa kita improve agar apapun kondisi eksternalnya, kita bisa menjadi bertambah kuat dari hari ke hari,” katanya di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Trisno adalah transformasi digital.
Ia menegaskan bahwa visi BPR Lestari adalah menjadi BPR nasional digital terbesar dan terpercaya.
Karena itu, digitalisasi disebut menjadi bagian penting yang terus dikembangkan perusahaan secara bertahap.
Menurut Trisno, perkembangan teknologi telah mengubah peta persaingan bisnis, termasuk bagaimana perusahaan-perusahaan dari China mampu berkembang menjadi pemain penting dalam bisnis global.
Trisno kemudian mengambil contoh perkembangan industri kendaraan listrik China melalui BYD. Ia menyinggung wawancara Elon Musk pada 2011 yang ketika itu masih meragukan kemampuan BYD bersaing dengan Tesla.
Namun, menurut Trisno, perkembangan dalam lebih dari satu dekade kemudian menunjukkan perubahan yang signifikan.
Ia menyebut, BYD pada 2025 telah mengambil 19 persen pangsa pasar penjualan kendaraan listrik dunia, sementara Tesla berada pada 7,8 persen.
Dari 10 merek kendaraan listrik dengan penjualan terbesar, tujuh di antaranya disebut berasal dari China.
Bagi Trisno, contoh tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan perusahaan untuk terus melakukan perbaikan dan beradaptasi.
Karena itu, BBRT ke-8 menghadirkan James Gwee, pelatih bidang marketing dan sales, untuk membagikan pengalaman mengenai apa yang dilakukan para pengusaha China sehingga mampu membangun bisnis hingga menjadi pemain besar.
Trisno menyebut James memiliki pengalaman mengajak pengusaha Indonesia melakukan studi banding ke sejumlah perusahaan besar di China.
Di sisi internal, BPR Lestari juga tengah memperkuat layanan digital. Trisno menyampaikan perusahaan baru melakukan pembaruan terhadap tiga aplikasi sekaligus.
Salah satunya Lestari Mobile sebagai aplikasi mobile banking yang diperbarui dari sisi tampilan dan informasi agar lebih mudah digunakan nasabah.
Kemudian Lestari Diskon yang kini menerapkan proses klaim merchant secara digital dan paperless. Sementara layanan internet banking untuk nasabah korporasi juga mendapat pembaruan tampilan dan antarmuka.
Menurut Trisno, pengembangan teknologi tersebut bukan semata-mata untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi bagian dari komitmen perusahaan memperbaiki layanan.
Ia juga menyampaikan bahwa nasabah kini dapat melakukan penarikan uang tunai melalui ATM BCA di seluruh Indonesia.
”Ini semua merupakan bentuk komitmen kami untuk selalu up to date dari sisi teknologi dan layanan,” tegasnya.
Namun, Trisno mengingatkan bahwa transformasi digital juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya risiko keamanan.
Ia meminta nasabah tidak hanya mengandalkan sistem keamanan yang disiapkan bank, tetapi ikut menjaga keamanan akun masing-masing.
Password, PIN dan kode OTP, kata dia, harus dijaga kerahasiaannya dan tidak diberikan kepada siapapun.
”Jika teknologi bisa membuat kita semakin mudah bertransaksi, maka teknologi juga memudahkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk lebih mudah mencuri uang kita dan data kita,” ujar Trisno.
Karena itu, ia mengingatkan nasabah agar tidak sembarangan mengunduh aplikasi maupun membuka file yang tidak jelas asal-usulnya.
BPR Lestari, lanjutnya, akan terus memberikan pengingat mengenai keamanan transaksi digital melalui email maupun notifikasi.
Selain digitalisasi perbankan, BPR Lestari juga mulai mengubah penggunaan kendaraan operasionalnya.
Trisno menyebut sekitar 70 persen armada perusahaan saat ini telah menggunakan kendaraan listrik. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak sekaligus menekan emisi karbon.
Melalui BBRT ke-8, Trisno sekaligus menempatkan perubahan teknologi dan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting dalam menghadapi kondisi bisnis yang dinamis.
Alih-alih hanya melihat gejolak ekonomi global sebagai ancaman dari luar, BPR Lestari mendorong nasabah untuk melihat kembali bagaimana perusahaan dan pelaku usaha dapat memperkuat sistem, layanan, manajemen, serta kemampuan beradaptasi dari dalam.
Editor : Rosihan Anwar