AMLAPURA- Salak menjadi komoditas andalan Karangasem.
Dengan keunggulan varian dan rasa yang khasnya, salak Karangasem mulai diminati pasar di luar Bali.
Salah satunya salak Desa Sibetan, Kecamatan Benandem, Karangasem yang saat ini mulai diminati pasar Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hal itu diungkapkan salah seorang petani salak asal Sibetan, Ida Bagus Gede Ngurah, Minggu (5/9).
Kata dia, salak Sibetan diminati karena rasanya yang tidak terlalu manis.
Setidaknya ada dua daerah di NTB yakni Sumbawa dan Lombok yang mengajukan permintaan dari para produsen di sana.
Bahkan dalam satu hari permintaan mencapai 3 ton. “Selain dijual dalam bentuk buah utuh, salak Sibetan juga diolah dalam berbagai bentuk olahan. Cukup tinggi memang permintaan dari produsen di NTB,” terangnya.
Gede Ngurah sendiri memiliki lahan kebun salak seluas 25 are.
Untuk jenis salaknya sendiri merupakan salak Bali. Namun ada juga beberapa permintaan untuk salak gula.
“Petani di sini (Sibetan) juga menjual hasil panen salaknya ke tengkulak untuk dikirim ke NTB dengan harga Rp 4000 per kilogram,” kata Gede Ngurah.
Hal ini juga dibenarka salah seorang pengepul salak, Jero Wage.
Dia menyebut untuk permintaan salak Bali dari luar daerah Bali sudah lama diminati.
Selain Jawa, permintaa juga datang dari NTB bahkan hingga NTT.
“Seperti Sumbawa, Lombok, Dompu. Termasuk NTT juga. Untuk harga ke luar Bali kami jual Rp 6.500 per kilogram,” paparnya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Pertanian Karangasem, I Putu Antara membenarkan hal itu.
Menurut Antara, selain diminati pasar luar daerah Bali atau pasar domestik, komoditi salak Bali khususnya salak Sibetan juga mulai terserap di pasar ekspor.
Belakangan ini, kata dia, petani Sibetan menjual salak segar yang sudah dikupas ke eksportir di Jakarta untuk kemudian dikirim ke beberapa negara Asia Tenggara. "Seperti Malaysia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, ucapnya.
Hanya saja saat ini, imbuh Antara, kendala yang dihadapi para petani ketika dihadapkan pada masa panen raya.
Di mana saat itu harga buah salak anjlok bahkan berada di kisaran Rp 1000 per kilogram.
“Dengan harga segitu kan petani rugi. Bahkan belum lagi untuk ongkos petik dan angkut. Makanya untuk meningkatkan harga jualnya bisa diolah menjadi makanan kripik, atau selai, dodol, manisan hingga minuman,” tukasnya.
Editor : Didik Dwi Pratono