Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Babi Hidup Keluar Daerah Bali Disepakati Naik Jadi Rp45 Ribu/ Kg

Yoyo Raharyo • Selasa, 5 April 2022 | 15:15 WIB
harga-babi-hidup-keluar-daerah-bali-disepakati-naik-jadi-rp45-ribu-kg
harga-babi-hidup-keluar-daerah-bali-disepakati-naik-jadi-rp45-ribu-kg

GIANYAR - Kabar gembira bagi peternak babi di Bali. Harga jual babi hidup untuk dikirim keluar daerah Bali naik dari Rp37.000 (Rpp37 ribu) menjadi Rp45.000 (Rp45 ribu). Harga ini berbeda dengan jual di dalam daerah Bali yang berkisar Rp35 ribu sampai Rp37 ribu.



 


Kenaikan tersebut berdasarkan kesepakatan rapat Gabungan Pengusaha Babi (Gupbi) Bali bersama puluhan pengirim babi di Ubud, Gianyar.


 


Keputusan itu ditegaskan Ketua Gupbi Bali, Ketut Hari Suyasa, melalui sambungan telepon, Senin (4/4).


 


“Yang kami ajak bersepakat adalah para pengirim babi yang biasa mengirim keluar daerah. Kesepakatan Rp 45 ribu,” ujarnya.


 


Kata Hari Suyasa, kesepakatan tersebut berdasarkan harga dasar babi di peternakan di Bali.


 


“Dengan harga dasar sekitar Rp 40 ribu babi hidup di peternakan, akhirnya kami menyepakati harga kirim hidup Rp 45 ribu. Semuanya sudah sepakat,” jelasnya.


 


Dengan harga Rp 45.000, maka ada kenaikan dari harga jual sebelumnya. Harga lama Rp 37-39 ribu.


Dengan adanya kenaikan harga tersebut, pihaknya menilai sudah menguntungkan penjual babi di luar Bali. Seperti di Jakarta, harga babi potong rata-rata Rp 120-140 ribu per kilo gram.


 


“Dengan harga dari kami segitu, tentunya penjual sudah mendapatkan untung yang banyak,” jelasnya.


 


Hari Suyasa menegaskan jika harga itu khusus pengiriman keluar daerah. Baik ke Surabaya, Jakarta hingga Medan.


 


“Kalau harga babi di lokalan (untuk pasar Bali, red) beragam, ada yang 35, 36, 37 (ribu, Red),” terangnya.


 


Pihaknya berharap, harga tersebut menguntungkan para peternak di Bali. Pematokan harga juga untuk menjaga persaingan usaha yang sehat di tingkat peternak hingga penjual.


 


Lebih lanjut dikatakan,  ketersediaan babi di Bali belum pulih pasca-wabah yang melanda.


 


“Populasi belum pulih 100 persen. Tapi dibandingkan daerah lain, seperti Manado dan Medan, justru Bali lebih cepat pemulihan untuk beternak babi, kita di Bali lebih cepat,” jelasnya.


 


Dengan pemulihan peternakan yang cepat, babi dari Bali saat ini mendominasi pasaran. “Medan belum pulih. Justru kita yang kirim ke Medan. Ini peluang peternak,” pungkasnya.


 


Berdasarkan data Dinas Peternakan Gianyar, jumlah populasi babi pada 2016 mencapai 119.826 ekor. Lalu pada 2017 meningkat menjadi 120.017 ekor. Dan tahun 2018 mencapai 119.861 ekor. Selanjutnya tahun 2019 mencapai 138.764 ekor. 


 


Sedangkan tahun 2020 menurun drastis akibat wabah ASF menjadi sebanyak 83.316 ekor. Kemudian pada tahun 2021 populasi menjadi merangkak naik menjadi 87.248 ekor.

Editor : Yoyo Raharyo
#babi #peternak babi #bali