Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Perkebunan Buah Naga di Desa Bulian Kubutambahan Kini Jadi Komoditas Andalan Desa

M.Ridwan • Sabtu, 7 Januari 2023 | 05:00 WIB
ANDALAN: Perkebunan Buah Naga di Desa Bulian Kubutambahan yang dulu gersang kini buah naga jadi andalan utama masyarakat.
ANDALAN: Perkebunan Buah Naga di Desa Bulian Kubutambahan yang dulu gersang kini buah naga jadi andalan utama masyarakat.
Desa Bulian kini tak bisa dipisahkan  dari buah naga. Citra soal keberadaan buah itu begitu melekat, mengingat desa di Kecamatan Kubutambahan itu merupakan sentra penghasil buah yang identik dengan warna merah tersebut. Namun siapa sangka bila komoditas buah naga itu dipelopori oleh seorang petani?

 HAMPARAN tanaman buah naga begitu luas. Bahkan hingga sejauh mata memandang, hamparan kebun buah naga tak kunjung habis. Buah naga kini jadi salah satu komoditas unggulan di Desa Bulian. Selama bertahun-tahun desa tersebut kini identik dengan buah naga.

Semua berawal dari tangan dingin Wayan Kantra. Pria itu memulai budi daya buah naga pada tahun 2004 silam. Lahan yang kurang produktif ditanami komoditas buah yang batangnya mirip dengan kaktus tersebut. Bermula dari coba-coba, ternyata proses budi daya itu berhasil dengan gemilang.

Saat ini Kantra memiliki setidaknya lebih dari 12 ribu batang pohon buah naga. Pohon-pohon itu akan berbuah pada bulan Juli hingga September nanti. Masing-masing pohon biasanya akan menghasilkan hingga 10 kilogram buah naga.

Bahkan Kantra kini mengantongi sertifikat organik atas pengelolaan lahannya. Buah-buah dari kebunnya sempat direncanakan diekspor ke Tiongkok. Hanya saja rencana itu tertunda gegara dilanda pandemi.

Melihat keberhasilan Kantra, petani yang lain pun turut melirik potensi tersebut. Saat ini luas lahan budidaya buah naga di Desa Bulian mencapai 50 hektare, dengan 25 kelompok petani yang terlibat di dalamnya.

Perbekel Bulian, Made Sudirsa mengungkapkan, komoditas buah naga tak bisa dilepaskan dari kontribusi Wayan Kantra. Ia menjadi pelopor sekaligus petani buah naga terbesar di Bulian hingga kini.

Menurut Sudirsa komoditas buah naga ternyata sangat cocok dengan kondisi tanah di Desa Bulian. Lahan-lahan yang tandus dapat diolah sedemikian rupa hingga menjadi produktif. Warga pun tak kesulitan mendapatkan akses air untuk pengairan lahan. Ditambah lagi usia tanaman juga cukup panjang. Mencapai 15 tahun untuk satu periode tanam.

“Memang panennya hanya setahun sekali. Tapi usianya juga cukup Panjang. Selain itu kebutuhan air juga tidak terlalu tinggi. Jadi bisa diatur pembagian air sesuai kebutuhan. Volumenya juga diatur, kapal perlu untuk pembuahan, kapan untuk penguatan batang,” jelas Sudirsa.

Lebih lanjut Sudirsa mengatakan, komoditas buah naga di Bulian sebagian besar masih diserap pasar lokal di Provinsi Bali. Namun pada waktu-waktu tertentu, buah produksi petani di Bulian juga didistribusikan hingga ke Pulau Jawa dan Lombok. Sejauh ini pesaing terdekat petani di Bulian hanya petani dari Banyuwangi.

“Mungkin ada yang bilang kita masih kalah ukuran. Tapi kalau dari segi rasa, kami berani bersaing untuk kualitas,” ujarnya.

Sudirsa mengaku kini pihaknya tengah berupaya memikirikan program pasca-panen. Sebab bila hanya mengandalkan penjualan dalam bentuk buah, dikhawatirkan akan muncul fluktuasi harga. Terutama saat harga melimpah.

“Kami sedang pikirkan alternatif olahan lain. Paling gampang memang untuk jus. Tapi kan harus ada alternatif lain. Mungkin dibuat jadi selai, atau yang lainnya,” demikian Sudirsa. (eka prasetya/rid)

  Editor : M.Ridwan
#komoditas andalan #penghasil buah naga #andalan desa #Desa Bulian Kubutambahan #perkebunan buah naga