Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengatakan, lahan seluas 1,9 hektare itu memang berstatus sebagai aset DLH sejak lama. Tadinya lahan itu akan digunakan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dengan tematik hutan kota.
Sayangnya upaya itu tertunda selama belasan tahun, gegara pemerintah tak punya akses jalan. Alhasil kini lahan itu hanya berisi tanaman pisang dan padang ilalang. Kini DLH berencana mengelola lahan tersebut sebagai areal tanam cabai.
Melandrat mengaku lahan itu sudah dibersihkan sejak sepekan lalu. “Sekarang baru sekitar satu hektare dari total 1,9 hektare. Kami butuh waktu, karena luas lahannya juga lumayan. Kami harus lakukan manual, karena alat berat tidak bisa masuk,” ujarnya.
Menurutnya setelah membersihkan lahan, masih butuh proses lagi. Yakni mengolah lahan menggunakan traktor, serta pembuatan drainase. Proses itu diperkirakan memakan waktu selama sebulan.
“Target kami bulan depan, setelah Nyepi sudah mulai menanam cabai di sana. Rencananya BI (Bank Indonesia) akan memberikan bantuan bibit. Nanti akan jadi lahan percontohan penanaman cabai. Hasilnya akan disuplai ke pasar, biar bisa menekan harga cabai,” demikian Melandrat.[eka prasetya/radar bali]
Editor : Hari Puspita