Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Viral Madu Kele-Kele dari Kuwum Mengwi Diminati Jepang, Begini Rahasia Keunggulannya

Ni Made Ari Rismaya Dewi • Selasa, 20 Juni 2023 | 06:30 WIB

PASAR EKSPOR: Bentuk sarang Madu Kele-kele yang dibudidayakan di Kuwum Mengwi Badung ini diminati Jepang.
PASAR EKSPOR: Bentuk sarang Madu Kele-kele yang dibudidayakan di Kuwum Mengwi Badung ini diminati Jepang.


MANGUPURA,radarbali.id - Semenjak pandemi Covid-19, masyarakat Bali berbondong-bondong membeli madu dari lebah trigona atau yang dikenal dengan kele-kele. Madu satu ini disebut memiliki manfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit dalam. Sontak madu ini viral dan banyak yang mulai membudidayakannya.

Salah satu budidaya madu kele-kele yang sudah berdiri sejak tahun 2016 yakni D'Cupliz Bee Farm di Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Badung.

Pemilik budidaya madu kele-kele, I Made Riawan atau akrab disapa Made Cuplis ini membudidayakan lebah kele-kele di tujuh lokasi berbeda. Satu lokasinya bisa memuat 100 log atau media budidaya lebah.

Baca Juga: Sopir Ngantuk, Mobil Angkut Dua Wisatawan India Nyemplung Got

"Lebah yang saya pelihara ini lebah tanpa sengat yang diadopsi dari Sumatera. Hasil madunya agak kurang karena, dia kecil dan jangkauannya pendek," tuturnya kemarin (18/6).

Namun lebah kele-kele memiliki daya adaptasi yang tinggi dan bisa hidup di lingkungan apapun, asalkan ada vegetasi bunganya. Hanya saya ia terkendala setiap musim hujan lantaran lebah tak keluar dari sarang dan bunga mulainrontok.

Cara panennya pun bukan dengan diperas, madu kele-kele dipanen dengan cara disedot. Sehingga hasilnya lebih jernih dan warnanya tidak keruh. "Hitungan bulan itu sudah bisa disedot, tidak peras kayak dulu. Jadi hasilnya lebih jernih. Dulu diperas, agak keruh warna madunya," sambungnya.

Baca Juga: Waduh! Kejari Klungkung Temukan Indikasi PMH Terhadap Pengelolaan Dana Pendidikan SMKN 1 Klungkung

Sekali panen, satu log normalnya bisa menghasilkan 500ml atau sedikitnya 250 ml tiap tiga sampai empat bulan. Madu yang diproduksinya tidak ada melalui pemanasan maupun pengurangan kadar air. Sehingga tiap panen, rasa, aroma, dan warnanya berbeda-beda.

Menariknya, penjualannya madu kele-kele dari D'Cupliz Bee Farm sudah sampai ke Negeri Sakura sejak tahun 2022 melalui agent. Pria yang memiliki hobi dengan binatang ini menyebutkan mulai mengekspor madu kele-kele ketika seorang wisatawan membeli madunya.

"Dulu ada orang Jepang yang ke sini, dia bawa satu ke Jepang dan dites ternyata hasilnya bagus. Ownernya di Jepang langsung ke Bali," kata De Cuplis.

Baca Juga: Astaga! Bule Keluyuran tanpa Celana di Kerobokan Diamankan Satpol PP, Gangguan Jiwa?

Madu kele-kele yang akan diekspor dikumpulkan dahulu selama dua atau tiga bulan hingga jumlahnya terkumpul. Dalam sekali ekspor, ia dapat mengirimkan 200 hingga 300 botol madu kele-kele.

Tak berhenti sampai situ, para wisatawan kerap datang setiap harinya ke budidaya lebah ini. Respon dari wisatawan pun positif. Banyak wisatawan yang kaget dengan lebah kele-kele berbentuk lebih kecil dan rasanya yang berbeda dari madu lainnya.

Ia pun kerap memberikan penjelasan kepada wisatawan maupun pelanggannya agar memahami proses pembuatan dan produknya sebelum dijual atau dikonsumsi pribadi.

Baca Juga: Aneh! PKB ke-45 Dibuka Megawati, Gubernur Koster Sebut Tidak Ada Ketentuan Diresmikan Presiden

"Makanya untuk langganan, sering kita kasih penjelasan dulu. Kita bermain dengan alam, jadi hasilnya ga mungkin sama," jelasnya. ***

Editor : M.Ridwan
#Ekspor ke Jepang #trigona #madu kele-kele #jepang #Sembuhkan penyakit #kuwum mengwi #ekspor