Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Harga Cabai Jadi Penyebab, Inflasi Bali 2023 Capai 2,7 Persen

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 7 Januari 2024 | 06:05 WIB
SERING NAIK TURUN : Pedagang cabai di Pasar Anyar, Singaraja, beberapa waktu lalu.Harga cabai sering jadi pemicu inflasi di Bali.(dok.radar bali)
SERING NAIK TURUN : Pedagang cabai di Pasar Anyar, Singaraja, beberapa waktu lalu.Harga cabai sering jadi pemicu inflasi di Bali.(dok.radar bali)

DENPASARRadar Bali.id-  Inflasi di Bali tahun 2023 mencapai  2,77 persen, hasil dari  harga gabungan dua kota di Provinsi Bali (Denpasar dan Singaraja) pada Desember 2023 tercatat inflasi sebesar 0,48 persen (mtm) sehingga berada berada dalam target sasaran 3±1persen.Tercatat lebih rendah dibandingkan tahun 2022 sebesar 6,20 persen. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja menyatakan penyebab inflasi pada Desember 2023 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai merah, tarif angkutan udara, emas perhiasan, canang sari dan cabai rawit. Kenaikan harga komoditas cabai terutama disebabkan oleh penurunan pasokan seiring dengan berakhirnya musim panen raya. 

Kemudian, kenaikan tarif angkutan udara terjadi seiring dengan peningkatan permintaan selama periode libur panjang Natal dan Tahun Baru 2024.

"Sementara itu, kenaikan harga emas perhiasan didorong oleh kenaikan harga emas di pasar internasional dan kenaikan harga canang sari disebabkan oleh peningkatan permintaan dalam rangka penyelenggaraan beberapa upacara keagamaan," terang Erwin.

 Di  lain sisi, komoditas penyumbang deflasi adalah ikan tongkol segar dan diawetkan, dan aneka buah (mangga, papaya, jeruk) seiring dengan peningkatan pasokan.

Pada Januari 2024, risiko yang perlu diwaspadai antara lain dampak kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) sebesar 10% mulai Januari 2024 terhadap peningkatan harga rokok, dan potensi masih berlanjutnya kenaikan harga hortikultura (cabai, bawang merah) seiring dengan berakhirnya musim panen.

Penurunan harga BBM non subsidi per 1 Januari 2024 rata-rata sebesar -5,60% dan potensi penurunan tarif angkutan udara usai tingginya permintaan pada libur Natal dan tahun baru diprakirakan akan menjadi penyumbang deflasi pada Januari 2024.

TPID Provinsi dan kabupaten/kota di Bali secara konsisten melakukan pengendalian inflasi melalui kerangka 4K antara lain:  intensifikasi penyelenggaraan operasi pasar murah untuk menjaga stabilitas harga dan pemantauan harga dengan koordinasi antar lembaga

Selanjutnya pemberian subsidi ongkos angkut khususnya dalam kegiatan operasi pasar;  Perluasan ekosisistem agribisnis komoditas hortikultura melalui kemitraan close loop. 

"Mendorong peran Perumda Pangan se-Bali dan Distributor dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga pangan; memperluas dan meningkatkan Kerja sama Antar Daerah (KAD); dan mempercepat rencana pembentukan pasar induk di Provinsi Bal," tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita