DENPASAR, radarbali.id – Getolnya pertemuan dan pameran yang digelar di Bali membuahkan berkah bagi Ni Komang Rosiani, perajin asal Bangli. Beragam produk kerajinan berbahan rotan hasil kreasinya kerap menjadi souvernir.
Produk kerajinan rotan bernama Rotenbi itu berupa tas, dompet dan topi. "Paling banyak yang dipesan tas dan dompet," kata Rosiani di rumahnya, Jalan Kresna, Yangapi, Tembuku, Bangli, belum lama ini.
Rosi, sapaan akrabnya, menyebut tas dan dompet karyanya cukup digandrungi sejumlah kementerian, BUMN hingga lembaga negara. Diantaranya Bappenas, Bank Indonesia, Telkom dan LKPP.
Baca Juga: Menegangkan! Pentas Janger Meborbor, Penari Kerauhan di Taman Budaya Bali
Produk Rotenbi dikenal di kalangan instansi pemerintah setelah terdaftar di E-Katalog awal tahun lalu. E-Katalog yang diikuti pun sudah menggunakan teknologi terbaru, versi 6.0.
Rosi mengaku hingga kini sudah tiga kali melakukan transaksi pengadaan dompet dan tas berbahan rotan melalui E-Katalog. "Kalau nilai transaksinya tiga digit," ungkapny tanpa menyebut angka nominalnya.
Sejak produk kerajinannya mejeng di E-Katalog, pesanan datang silih berganti dari kementerian, BUMN dan lembaga negara yang menggelar pertemuan pameran di Bali.
Baca Juga: Nostalgia Para Penabuh Memainkan Gamelan Gong Kebyar Legendaris di PKB ke-46
Tidak jarang sejumlah orang dari even organizer (EO) dan panitia petemuan datang langsung ke rumahnya guna memesan tas, dompet hingga topi sebagai souvernir, baik untuk peserta pertemuan hingga untuk tamu kehormatan.
Untuk memenuhi pesanan dadakan yang jumlahnya pernah mencapai 600 pices, Rosi menambah penganyam hingga berjumlah 20 orang. Rotenbi sendiri punya pekerja tetap delapan orang.
Dengan tenaga dua kali lipat, ratusan anyaman tas dan dompet bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari. "Desainnya saya sendiri yang bikin," ujar Rosi.
Baca Juga: Nostalgia Para Penabuh Memainkan Gamelan Gong Kebyar Legendaris di PKB ke-46
Pesanan dadakan lebih disukai Rosi dan pegawainya. "Perputaran uangnya lebih cepat dan hasilnya juga lebih besar. Anak-anak juga lebih semangat kerjanya," ujarnya.
Pesanan souvernir untuk pertemuan itu akhirnya membuat sejumlah istri pejabat dari Jakarta kepincut. Produk tas dan dompet paling menjadi primadona.
Tak sedikit istri pejabat dari pusat datang ke rumah Rosi untuk memesan tas dan dompet. Tak jarang juga Rosi diundang ke hotel tempat mereka menginap.
"Mereka lalu ngajak jalan sambil ngobrolin produk kita dan akhirnya pesan untuk komunitas mereka," imbuh Rosi.
Dari pesanan dadakan untuk pertemuan dan para istri pejabat, Rosi bisa mengirinkan 15 invoice. "Satu invoice nilainya dua digit-lah," ujar pengusaha yang tidak merampungkan kuliah jurusan teologi di IHDN ini.
Rosi memulai usaha kerajinan rotan sejak tahun 2015 silam. Rotan dipilih sebagai bahan dasar karena lentur sehingga muah dilipat dan digulung. Rotan juga terlihat elegan seperti barang mewah dan punya nilai jual tinggi.
Beda dengan kerajinan berbahan bambu karena seratnya agak tajam sehingga bisa melukai dan pandan yang begitu kena air cepat rusak.
Untuk bahan rotan, dia telah bekerjasama dengan dinas pemerintah di Kalimantan. "Awalnya ketemu di media sosial lalu mereka pernah ikut pameran di Bali," ungkap Rosi.
Sembilan tahun menekuni, Rosi mengaku mengalami jatuh bangun dan belajar banyak dari pengalaman. Awalnya, pasar ekspor yang dituju, yaitu ke Malaysia, Australia dan Jepang.
Pandemi Covid-19 benar-benar merubah semua. "Selama hampir tiga tahun tidak ada permintaan ekspor. Benar-benar drop," kenangnya.
Rosi mencoba bangun dengan menitipkan produknya berupa tas, dompet, topi, keranjang dan tikar ke sejumlah outlet di sejumlah daerah tujuan wisata.
"Ternyata pasarnya kurang bagus dan perputaran uangnya lama," ungkap Rosi seraya memutuskan mengurungkan niatnya membuka toko di daerah wisata.
Rosi pun memilih memulai semuanya dari nol kembali. Dia rajin mengikuti pelatihan tentang pemasaran produk kerajinan yang digelar lembaga pemerintah dan BUMN.
Dalam pelatihan di Rumah BUMN Telkom di Bangli, Rosi mendapat pendampingan untuk mengurus merk hingga diajak mengikuti pameran kerajinan ke China.
Produk Rotenbi berkibar kembali setelah Rosi bertemu Elizabeth Tjandra, istri Menteri BUMN Erick Thohir saat berkunjung ke Rumah BUMN Tekom Bangli, pertengahan tahun lalu.
Dalam pertemuan, Tjandra memesan topi rotan yang akan digunakan ibu negara Iriana Joko Widodo untuk menaman pohon dan membuat pupuk kompos di Istana Presiden Tampaksiring, Gianyar.
Rosi juga mengenang kebanggannya ketika diberi kesempatan melatih mengayam rotan kepada para istri kepala negara yang hadir dalam KTT G20 di Bali, November 2022 lalu.
Kebanggaan lainnya yaitu bisa mengumrohkan salah satu pegawainya yang muslim. "Ada juga yang bisa membangun rumah, beli mobil dan motor dari hasil kerja," pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan