DENPASAR,Radarbali.id-Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat inflasi yang terjadi di provinsi Bali selama bulan Juli. Di mana secara year on year (yoy), Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 2,53 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 106,69. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Denpasar sebesar 3,04 persen dengan Indeks harga konsumen sebesar 107,30.
”Inflasi terendah tercatat di Kabupaten Tabanan sebesar 1,75 persen dengan Indeks harga konsumen sebesar 108,27,” kata Kepala BPS provinsi Bali, Endang Retno Sri, Jumat (2/8).
Inflasi ini sendiri terjadi karena adanya kenaikan harga komoditas-komoditas yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga konsumen pada sepuluh kelompok pengeluaran.
Sementara itu, perkembangan harga di Provinsi Bali pada Juli 2024 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,10 persen month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,55 persen (mtm).
Sementara itu, secara tahunan, inflasi Provinsi Bali menurun dari 2,71 persen (yoy pada bulan sebelumnya menjadi 2,53 persen (yoy) dan tetap berada pada kisaran target 2,5 persen ± 1 persen. Sementara itu, Bank Indonesia Provinsi Bali mendata bahwa kelompok penyediaan makanan minuman, dan kelompok pendidikan menjadi penyumbang inflasi utama pada Juli 2024.
Sementara, berdasarkan komoditasnya, inflasi terutama bersumber dari cabai rawit, beras, kopi bubuk, biaya pendidikan taman kanak-kanak, dan angkutan udara. Kenaikan harga beras dan cabai rawit didorong oleh penurunan pasokan sejalan dengan berakhirnya panen raya padi di Bali serta terbatasnya pasokan cabai rawit dari dalam Bali seperti Klungkung, Kintamani, dan Singaraja dan luar Bali seperti dari Ampenan, Lombok dan Jawa.
Baca Juga: Cegah Inflasi Memburuk dan Jaga Stabilitas Harga, di Klungkung Pasar Murah Gencar Digelar
Lalu kenaikan biaya pendidikan seiring dengan masuknya tahun ajaran baru. Demikian pula libur tahun ajaran baru mempengaruhi kenaikan tarif angkutan udara. Sementara itu, laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, tomat, cabai merah, kol putih atau kubis, dan semangka.
Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja mengatakan pada bulan Agustus 2024 ini, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai, seperti potensi penurunan pasokan beras dan cabai rawit yang masih berlanjut seiring dengan berakhirnya panen raya.
Lalu harga avtur yang lebih tinggi berisiko menyebabkan kenaikan tarif angkutan udara. ”Namun potensi stabilitas harga tetap terjaga sejalan harga gula global yang menunjukkan penurunan berpotensi mempengaruhi penurunan harga gula pasir dalam negeri dan panen bawang merah di Bima (NTB) sebagai salah satu sumber pasokan di Bali,” bebernya. ***
Editor : Made Dwija Putera