DENPASAR, Radarbali.id - Negara Italia dikenal dengan kuliner pizza dan pastanya yang memiliki cita rasa unik. Tak perlu jauh-jauh ke Italia, masyarakat Bali bisa mencicipi kuliner khas Italia di Jalan Gatsu Barat Nomor 371, Denpasar Utara. Uniknya, makanan Italia tersebut dijejerkan bak hidangan di warteg.
Pemilik Warteg Italia il Pomodoro Bali, Edi Bagyasadu Purnomo mengaku sebelum membuka usaha kuliner Italia, dirinya berangkat dari rasa penasaran untuk membuat kopi yang enak. Setelah membuka usaha minuman kopi, banyak kostumernya yang mencari hidangan peneman kopi.
”Jadi kami buat seperti warteg tapi masakan Italia. Selanjutnya berkembang menjadi ada pizza, pastry, gelato, yang semuanya kembali lagi ke cita rasa Italia,” tuturnya.
Hidangan ala warteg ini pun tersedia di buffet ‘touchscreen’ dengan lebih dari 30 macam jenis menu. Salah satunya yakni menu crespelle yang dipadukan dengan sayur di dalamnya. Begitu juga hidangan frittata yang berisikan sayur namun menghasilkan cita rasa yang berbeda.
Inspirasi membuat konsep warteg berawal dari belenggu bahwa makanan impor yang enak itu harus mahal. Dengan terobosan warteg Italia yang dibuka sejak tahun 2010 ini, diharapkannya dapat mengubah stigma masyarakat.
Sama seperti warteg pada umumnya, masing-masing menu di buffet pun dijual dengan harga yang ramah di kantong. Mulai dari garlic bread seharga Rp5 ribu, hingga paling mahal cordon bleu yang dipadukan dengan daging ayam dan ham di harga Rp 35 ribuan.
Baca Juga: Andi Taufan Garuda Putra Ungkap Kiat Sukses Amartha Bantu Jutaan UMKM di Indonesia
Konsep buffet pun memang ada di Italia, namun hidangannya tak sevariatif di wartegnya. Karena orang Italia cenderung menyukai menu-menu ala carte. ”Kalau di Indonesia terutama di Bali, mereka kecenderungannya mau makan enak, cepat, dan ekonomis,” kata Edi.
Meski berbasis makanan Italia, dirinya bersyukur hidangan yang disajikan dapat diterima oleh semua kalangan, dari anak-anak sampai yang sudah berumur.
”Karena makanan ini bukan makanan yang aneh yang rasanya tidak bisa diterima oleh orang Indonesia. Malah banyak sekali yang jadi loyal kustomer,” sambungnya.
Untuk bahan bakunya, 50 persen menggunakan produk impor. Contohnya seperti tomat yang diimpor dalam bentuk kaleng yang masih fresh, bukan sudah menjadi pasta.
Sebelumnya, ia telah mencoba untuk menggunakan tomat lokal. Hanya saja, supplier maupun petani lokal masih belum ada yang mempunyai jenis tomat yang biasa dipakainya. Selain itu juga cita rasanya yang berbeda dengan tomat impor.
Baca Juga: Diresmikan BI, Pasar Kuliner Gianyar Resmi Transaksi Belanja Gunakan QRIS
Seluruh hidangannya pun diracik oleh chef lokal yang diakuinya lebih jago daripada chef luar. Namun dengan tetap mempertahankan cita rasa makanan Italia yang otentik. Bahkan banyak turis dari Italia yang memberikan respon positif pada hidangan warteg ala Italia.
”Karena terbukti mereka dari awal kami buka sampai sekarang masih rajin dan datang berkala setiap minggu beberapa kali datang,” ungkapnya.
Selain menarik minat wisatawan asing yang berkunjung ke Bali, hidangan Italia ini juga diminati oleh warga lokal. Salah satunya I Gusti Ngurah Diva Ismayana, 23. ”Saya pribadi lebih kayak gambaran baru. Apalagi di Bali karena restoran Italia yang menyediakan warteg ini baru pertama kali di sini,” kata Diva.
Selain itu, cita rasanya juga cocok di lidah yang membuatnya sering datang ke warteg Italia. ”Harga juga terjangkau. Tidak terlalu mahal, tidak terlalu murah. Sesuai dengan rasanya,” sambungnya. ***
Editor : Made Dwija Putera