MANGUPURA, radarbali.jawapos.com -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia bersama Organization for Economic Cooperation and Development/International Network on Financial Education (OECD/INFE) menggelar acara Empowering Consumers Through Financial Education.
Kegiatan itu digelar di The Westin Resort, Nusa Dua, Kuta Selatan pada Jumat (8/11/2024). Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK mengatakan, kegiatan ini digelar untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di sektor keuangan.
”Topik ini penting,karena pentingnya financial education kepada masyarakat apalagi dengan perkembangan teknologi.
Bukan hanya kepada masyarakat yang paham keuangan tapi juga menyasar berbagai kelompok masyarakat yang pendidikannya rendah, income-nya pas pasan," kata Mirza kepada awak media di lokasi kegiatan kemarin.
Menurutnya, masyarakat penting memiliki pengetahuan terkait pengelolaan keuangan. Masyarakat didorong bagaimana sistem peminjaman dana.
Mirza memberi mengambil contoh semisyal ada masyarakat yang membeli produk menggunakan pay later. Terkadang ada masyarakat yang tak memahami bahwa dia harus membayar sesuai ketentuan.
”Kalau gak, namanya bisa tercatat masuk di kredit histori di bank dan sistem nasional atua SLIK. Masyraakat yang kelas atas aja belum tentu paham. Apalagi masyrakat belas bawah. Makanya kami mendorong," sambungnya.
Kata dia, OJK juga sudah mengeluarkan sejumlah regulasi dan memberikan sanksi kepada sejumlah lembaga yang melakukan penagihan tak sesuai dengan prosedur.
”OJK sudah berikan sanksi kepada lembaga-lembaga keuangan yang tidak mengikuti prosedur cara penagihan yang baik," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK mengatakan, bahwa dalam mengatasi krisis literasi keuangan, Indoensia juga butuh belajar dengan pihak lain.
Demikian pula dalam kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai negara itu.
”Kita belajar dari negara lain. Dan negara lain juga belajar dari kita. Dan kita melihat bagaimana pentingnya eduaksi keuangan. Bagaimana diajarkan mengelola keuangan, punya tabungan, punya asuransi. Itu semua bisa dipelajari," bebernya.
Dia mengungkap bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat indonesia saat ini berada di posisi 65 persen. Angka ini masih tergolong bagus. ”Kita masih upayakan lebih tinggi lagi. Harapan kita agar semakin meningkat," pungkasnya. (mar)
Editor : Rosihan Anwar