DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Harga kedelai mengalami kenaikan sejak beberapa waktu lalu. Ketua Pusat Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Bali, Sutrisno ungkap kondisi ini turut dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor dari Pemerintah Amerika Serikat sebesar 32 persen.
"Kalau secara umum memang ada kenaikan, tapi tidak terlalu mencolok. Waktu ini stabilnya antara Rp8.000 sampai Rp9.000, sekarang kisaran Rp9.800 sampai Rp10.500," ungkapnya.
Pihaknya pun telah mengikuti Rakernas Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yang turut membahas terkait kenaikan harga kedelai ini.
Baca Juga: Pemkot Denpasar Bangun 5 Sekolah di 2025, Netizen Nyinyir: Bangun Satu Sekolah Sampai Puluhan Miliar?
Namun meskipun ada kenaikan harga, anggota Puskopti Bali masih bisa memproduksi tahu tempe seperti biasa dengan kisaran harga kedelai masih Rp10.000 hingga Rp10.500. Hingga saat ini pun belum ada pengurangan ketebalan tahu tempe atau sejenisnya.
"Sementara ini tidak ada (pengurangan ketebalan, red). Masih di produksi seperti biasa, tidak mengurangi," kata Sutrisno.
Adapun lonjakan harga kedelai sebelumnya pernah terjadi di kisaran tahun 2022 hingga 2023 lalu. Saat itu, harga kedelai mencapai Rp14.000 per kilonya. Alhasil, banyak produsen yang gulung tikar. Setelah diadakan Rakernas, pihaknya meminta subsidi ke pemerintah.
Baca Juga: Keren! Lima Gedung Sekolah Baru Siap Dibangun Tahun 2025, Pemkot Denpasar Siapkan Anggaran Rp84,6 Miliar
Dengan kondisi saat ini, belum ada pengajuan subsidi kembali ke pemerintah karena harganya masih di kisaran Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilo.
"Tapi kalau harga sudah sekitar Rp13.000 ke atas, sampai Rp14.000 bahkan bisa lebih, kami baru mengajukan. (Bentuk subsidi, red) potongan harga," jelasnya.
Diharapkannya harga kedelai masih tetap stabil dan masih bisa dikendalikan. Sehingga tak sampai terjadi kenaikan harga seperti tahun-tahun sebelumnya.***