DENPASAR, radarbali.id – Dalam dua bulan terakhir, lanskap e-commerce Indonesia mengalami pergeseran besar. Penerapan biaya administrasi bagi seller hingga 14 persen per transaksi oleh dua raksasa marketplace—yang dikenal luas lewat aplikasi hijau dan oranye—membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) beralih ke tempat baru. Pilihan mereka jatuh pada platform berlogo kuning: Toco.id.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan manfaat dari migrasi ini adalah Bu Gek, pemilik Supershop di Denpasar Barat. Toko kecilnya yang menjual perlengkapan rumah tangga kini aktif di Toco.id, dan ia menyebut platform ini sebagai “angin segar” bagi usaha rumahan sepertinya.
“Saya tahu Toco dari canvanser yang datang ke toko. Daftar dan verifikasinya gampang sekali. Dan yang paling penting, gak ada potongan admin,” tuturnya dengan semangat.
Bu Gek memanfaatkan WhatsApp dan Facebook untuk menyebarkan katalog produknya yang kini terintegrasi di Toco. Menurutnya, fitur dan kemudahan yang ditawarkan platform ini sangat membantu penjual kecil untuk tetap bertahan—terlebih di tengah tekanan biaya yang meningkat.
“Kalau bisa promosinya diperbanyak, biar makin banyak orang tahu dan jualan kami juga makin laku,” tambahnya penuh harap.
Di balik lonjakan minat ini, Arnold Sebastian Egg—pendiri sekaligus CEO Toco.id—mengaku tak menyangka bahwa respons pelaku usaha akan secepat dan sebesar ini.
“Semua terjadi secara organik. Kami tidak membayar iklan besar, hanya menyebarkan kabar baik dan mendengar kebutuhan seller,” ujarnya.
Sejak awal Juni 2025, jumlah seller Toco melonjak dari ratusan menjadi 45 ribu dalam waktu tiga pekan. Menjelang akhir Juni, angka itu menembus 150 ribu penjual aktif dari berbagai penjuru Indonesia. Tak hanya dari kota besar, pelaku usaha dari Bali, NTB, hingga daerah terpencil turut bergabung. Total produk yang ditawarkan pun telah melampaui 1 juta item—dari fashion, elektronik, kuliner, hingga hobi dan perlengkapan rumah tangga.
Menurut data internal, pengguna aktif Toco kini telah melampaui 600 ribu per bulan.
Kebijakan bebas biaya admin seumur hidup menjadi daya tarik utama. Arnold menyatakan, ini adalah janji pribadinya kepada para pelaku usaha kecil. “Saya sendiri yang tanda tangani. Ini soal kepercayaan,” tegasnya.
Sebagai alternatif monetisasi, Toco menerapkan sistem biaya parkir tetap Rp2.000 per transaksi—tanpa memotong hasil penjualan. “Ibarat konsumen masuk mal, mereka bayar parkir. Tapi promo tetap datang dari seller, bukan dari platform,” jelas Arnold.
Editor : Ida Bagus Indra Prasetia