RADAR BALI - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali baru saja merilis kabar gembira terkait kinerja ekonomi Pulau Dewata.
Untuk periode Triwulan III tahun 2025, Bali menunjukkan tren pertumbuhan yang tidak hanya positif, tetapi juga sangat kuat.
BPS mencatat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga konstan mencapai Rp44,90 triliun.
Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menegaskan bahwa pemulihan ekonomi terus berjalan konsisten pasca-pandemi.
"Perekonomian Bali pada triwulan III-2025 masih menunjukkan pertumbuhan. Secara tahunan (year-on-year), ekonomi kita tumbuh 5,88 persen," jelas Agus.
Angka pertumbuhan kumulatif dari awal tahun hingga triwulan III ini bahkan mencapai 5,81 persen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa laju pemulihan Bali masih berada di atas rata-rata nasional.
Akomodasi dan Makan Minum: Jantung Perekonomian Bali
Lalu, apa yang menjadi penggerak utama pertumbuhan impresif ini? Jawabannya sudah bisa ditebak: sektor pariwisata.
Agus Gede Hermawan secara spesifik menyoroti lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (termasuk bisnis kuliner), yang mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi, melonjak hingga 11,00 persen.
Kontribusi sektor ini sangat dominan, menyumbang 23,07 persen dari total PDRB Bali.
"Ini menegaskan bahwa pariwisata masih menjadi penopang terbesar ekonomi Bali. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 11 persen di beberapa tahun terakhir, seiring dengan kembali pulihnya jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara," ujar Agus.
Pertumbuhan ini didorong oleh membanjirnya kunjungan wisatawan, khususnya dari mancanegara yang menikmati liburan musim panas Eropa.
Selain itu, terdapat penguatan mobilitas dan konsumsi rumah tangga di dalam negeri.
Perlambatan Musiman dan Kekuatan Konsumsi
Meskipun pertumbuhan tahunan sangat kuat, BPS juga mencatat sedikit perlambatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q), yang hanya tumbuh 0,34 persen.
Agus menjelaskan bahwa ini adalah fenomena yang wajar dan bersifat musiman dalam industri pariwisata.
"Triwulan II biasanya puncak ekonomi Bali, kemudian melambat di triwulan III sebelum sedikit peningkatan di triwulan IV, seperti pola pariwisata kita karena kita dasarnya adalah pariwisata," terangnya.
Dari sisi pengeluaran, mesin pendorong utamanya adalah Konsumsi Rumah Tangga, yang menyumbang lebih dari separuh perekonomian Bali.
Selain itu, komponen Ekspor Luar Negeri juga memberikan dorongan signifikan dengan pertumbuhan 6,33 persen secara triwulanan.
Data BPS Triwulan III-2025 memberikan pesan yang jelas: Bali sedang dalam kondisi ekonomi prima.
Pemulihan konsisten didukung penuh oleh geliat bisnis akomodasi dan kuliner, serta kekuatan daya beli masyarakat lokal.***
Editor : Ibnu Yunianto