Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah I Made Dwipa Adnyana (1): Dari Branch Manager Bank Pilih Jadi Pengusaha Dupa

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 18 November 2025 | 17:48 WIB
TEKUN: Made Dwipa Adnya ditemui di toko dupa miliknya di kawasan Monang - Maning, Denpasar, Jumat (14/11). (Foto: Novi Febriani/Radar Bali)
TEKUN: Made Dwipa Adnya ditemui di toko dupa miliknya di kawasan Monang - Maning, Denpasar, Jumat (14/11). (Foto: Novi Febriani/Radar Bali)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Di tengah pemukiman di Jalan Gunung Cemara, Gang VI, Monang-Maning, Denpasar Barat, Toko dupa Massehi miliki Made Dwipa Adnyana memulai menapak sejarah. Toko itu menjadi tempat mata pencaharian dan juga rumahnya.

Saat memasuki toko, Jumat (14/11), sangat terasa aroma dupanya. Ada banyak jenis aroma dupa dipajang rapi pada rak, di antaranya: aroma lotus, jempiring, madu, dan jasmine.

Photo
Photo

Meski tampak kecil, tapi stok yang dimiliki sekitar ratusan dupa dimiliki dan menghasilkan omzet ratusan juga juga per bulannya.

Dwipa adalah salah satu pengusaha yang konsisten dan gigih. Ia bersama istrinya berusaha dupa ini sejak tahun 2010. Sejatinya, Dwipa adalah seorang manager bank, namun memutuskan pensiun dini karena ingin mematangkan usaha tahun 2020.

”Tahun 2010 mulai, tahun 2018 buka toko, sudah terasa matang usaha ini dan ada program pensiun saya pilih pensiun sehingga fokus kembangkan usaha,” ucapnya.

Keputusan besar Dwipa meninggalkan jabatan di bank swasta telah membuahkan hasil. Dupa-dupa dengan merek Massehi telah banyak memiliki pelanggan.

Dari rumah tangga hingga Warga Negara Asing (WNA) yang menekuni Yoga.

”Kebanyakan kami jualan online dari kerabat, keluarga. Kemudian kirim ke hotel-hotel. Kadang-kadang tamu di Bali ikut yoga makanya kebutuhan dupa banyak,” terang pria lulusan Saraja Ekonomi, Universitas Udayana (UNUD) ini.

Varian dupa yang dimiliki sangat banyak, tapi pelanggan ada juga permintaan varian tertentu. Sebagai reseller, Dwipa mengambil dupa dari 15 pengrajin lokal di Bali. Berjualan tidak mengandalkan toko, tapi promosi dari mulut ke mulut.

”Kami mengandalkan pengerajin lokal. Sebenarnya standar dupa sama, karena sudah kenal aromanya harus mina itu,” ucapnya.

Penikmat dupa Massehi tidak di Bali saja , tapi di luar pulau, seperti: Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sumatera hingga Jawa.

Kendati laris di dalam negeri, dia mengaku belum ada kepikiran untuk melakukan ekspor. ”Belum kebayang (ekspor, red). Kebetulan ada teman buka hotel di Labuan Bajo, NTT order di saya,”jelasnya.

Dwipa memilih mengandalkan penjualan di dalam negeri. Ingin memiliki banyak pelanggan di hotel-hotel maupun villa. Di samping juga menjaga telah banyak pelanggan tetap yang sudah ada.

”Kami tawarkan ke keluarga, mau saja beli hingga jadi langganan. Tahun 2018 punya ukuran kecil space buat toko. Lebih baik di rumah tingkatkan door to door (penjualannya,red),” bebernya. 

 

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#bank bjb #entrepeneur