RADAR BALI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fenomena unik yakni masuknya komoditas wortel sebagai salah satu penyumbang kenaikan harga (inflasi) di Bali pada November 2025.
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan, fenomena tersebut telah dimulai sejak September 2025 dan baru mencuat pada November dengan andil 0,03 persen.
Dia menjelaskan, komoditas wortel lazimnya menyumbang inflasi ketika ketersediaan paling sedikit, yakni di periode Desember-Februari.
"Namun kali ini di September sudah mulai inflasi karena tingginya permintaan untuk program makanan bergizi gratis (MBG)," kata Agus Gede Hendrayana.
Komoditas yang lazim mengalami kenaikan harga pada periode November di Bali adalah bawang merah (0,08 persen) dan daging babi (0,06 persen).
Hal tersebut disebabkan tingginya permintaan untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan pada pertengahan dan akhir November.
Sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga adalah daging ayam (0,1 persen) dan beras (0,04 persen).
Total inflasi di Bali sejak Januari hingga November tercatat 2,29 persen.
Inflasi November 2025 dibandingkan dengan November 2024 (year-to-year) tercatat 2,51 persen.
Sedangkan inflasi sepanjang November (month to month) tercatat stabil di angka 0,4 persen.
Kelompok pengeluaran yang paling mempengaruhi inflasi adalah makanan dan minuman serta tembakau dengan kenaikan 0,75 persen dan memberikan andil 0,24 persen.
Selain itu, perawatan pribadi dan jasa (seperti kosmetik dan perawatan tubuh) dengan kenaikan 1,42 persen dan andil 0,14 persen. ***
Editor : Ibnu Yunianto