TABANAN, radarbali.jawapos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berlangsung di Tabanan dengan menyasar, balita, ibu hamil hingga kalangan pelajar tingkat TK hingga SMA/SMK.
Di balik program MBG ini adaya cerita suka dan duka dari pekerja dapur, mitra dan SPPG sebagai penyedian makanan. Seperti apa?
Mendung tebal mengintai pada wilayah barat Tabanan saat Jawa Pos Radar Bali mengintip kesibukkan keseharian dari dapur MBG yang berlokasi di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, pada Kamis (27/11/2025).
Dapur MBG itu berada dipinggir Jalan Denpasar-Gilimanuk yang dulunya adalah sebuah rumah makan Paon Kita yang kini telah menjelma menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dapur MBG ini milik dari Ni Nyoman Sarasmini mitra pemerintah untuk penyedian program makanan bergizi gratis. Dapur MBG inilah dapur yang pertama kali ada di Tabanan yang memberikan pelayanan makanan bergizi untuk anak sekolah-sekolah berada di Kecamatan Selemadeg Timur.
Tepat pukul 09.30 wita dalam suasana hujan Ni Nyoman Sarasmini didampingi pekerja dapur tukang masak I Wayan Santiasa dan Kepala SPPG I Nyoman Abi Pramantara tiba di lokasi dapur MBG.
Mereka sudah sekitar delapan bulan lebih menyediakan makanan bergizi gratis. Bergelut pada pemenuhan makan gizi gratis ternyata menyimpan berbagai unik hingga suka dan duka.
Ni Nyoman Sarasmini yang selaku mitra atau pengusaha yang menyediakan MBG mengaku ia tertarik menjadi mitra pemerintah dalam program MBG. Ternyata bukan tanpa alasan.
Selain karena adanya usaha rumah makan yang menyediakan catering makanan yang sudah digelutinya.
Selain itu tertarik karena bagian dari investasi hati memberikan anak-anak yang benar-benar membutuhkan demi tercapainya zero stunting di Indonesia. Gizi anak-anak harus tercukupi, karena mereka nanti penerus bangsa.
"Kebetulan juga karena hobi dengan masakan, suka masak dan berjualan. Sehingga itu yang membuat saya ikut menjadi mitra pemerintah dalam program MBG," akunya ditemui di dapur MBG miliknya.
Sarasmini pun bercerita proses awal ia lolos sebagai salah satu penyedia makanan (Mitra) bergizi gratis bagi anak-anak sekolah.
Pertama kali soal pengumuman MBG ia ketahui dari sebuah brosur di sosial media (sosmed). Bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) mencari mitra penyedia MBG.
Pengumuman itu pada awal bulan Oktober 2024. Salah satunya persyaratan yang harus dilengkapi adalah soal data siswa yang akan dilayani
Sehingga ia pun mulai melakukan pendataan terhadap siswa-siswa sekolah sebagai penerima MBG, calon tenaga kerja yang akan dipakai di SPPG dan syarat lainnya.
Termasuk pula mengirimkan video lokasi untuk dapur MBG. Padahal kala itu belum ada juklak dan juknis mengatur dari pemerintah.
Singkatnya, meski keterbatasan tenaga waktu iitu segala proses administrasi pun pihaknya lengkapi. Akhirnya pada bulan Desember dikeluarkan izin defenitif untuk bisa gabung dari mitra BGN.
Kemudian dinyatakan lolos sebagai mitra BGN. Kendati saat itu 20 hari diberikan batas waktu existing untuk perbaikan tempat dan sarana prasarana dibutuhkan.
"Dalam proses perjalanan tentu di awal pelayanan MBG kami masih sistem dengan dana talangan. Kami berusaha menutupi kebutuhan dengan dengan dana talangan sebesar Rp 250 juta," ungkapnya.
Modal Rp 250 juta untuk keperluan bahan baku makanan setiap hari Rp 37 juta. Penyiapan maintenance atau alat-alat dapur dan tempat produksi, tempat lokasi dapur hingga sarana alat kendaraan untuk distribusi makanan.
Seiring berjalan waktu pada pertengahan Januari 2025 mulailah beroperasi penyedian MBG pada dapur SPPG Bantas.
Setelah itu operasi MBG mulai stabil, lantaran pemerintah dalam hal pencairan pembayaran dilakukan secara lunas. Bahkan dari sisi pembayaran langsung menggunakan virtual account rekening kepada penyedia dapur SPPG.
"Jadi menjadi mitra pemerintah dalam program MBG lika-likunya cukup panjang. Termasuk dari sisi dinamika perubahan administrasi begitu cepat. Dapur MBG kami bernaung dibawah sebuah yayasan Ananda Mahardika Indonesia," tuturnya.
Hingga saat ini sampai dengan bulan November 2025 sebanyak 3.883 anak sekolah terlayani dari 42 sekolah yang ada diwilayah Kecamatan Selemadeg Timur.
Kemudian masing-masing sebanyak 23 ibu menyusui dan ibu hamil dan sebanyak 77 balita di wilayah Selemadeg Timur.
Meski sudah mampu menjalankan program MBG sebagai mitra pemerintah melalui BGN. Berbagai suka dan duka hingga kejadian menarik mitra alami.
Sukanya karena hidup di pedesaan yang ikut bergabung di MBG adalah melihat senyum dari para petani desa. Hasil panen pangan pertanian lokal itu mampu diserap langsung, apalagi pembelian sesuai dengan harga pasar. Bukan harga tengkulak.
Hasil pertanian lokal yang diserap seperti buah jagung, melon, semangka, kacang panjang, lele dan beras lokal itu untuk kebutuhan dapur MBG.
"Walaupun panen melimpah tetap harga pembelian bahan pangan untuk MBG dengan harga pasar. Serapan secara langsung, memangkas permainan tengkulak dibawah," ucapnya.
Selain itu dari program MBG ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu rumah tangga. "Kami saat ini mampu menyerap 48 tenaga kerja dengan satu chef yang sebagian adalah ibu rumah," jelasnya.
Untuk dukanya pasti ada human error saat penyedian MBG dilakukan. Misalnya kesalahan melakukan pendistribusian terkait kekurangan paket makanan yang dikirim ke sana.
Seperti 100 paket makanan dikirim pada sebuah sekolah, yang mulanya sudah dicek makanan tersebut komplit jumlah. Namun saat distribusi kekurangan dua paket.
Terpaksa pekerja yang mendistribusi harus balik kembali mengambil makanan di dapur, padahal mereka sudah berada di sekolah.
Disinggung soal kendala begitu banyak administrasi lanjutan dari MBG yang dijalani. Mulai dituntut surat SLHS (sertifikat laik higiene sanitasi) bagi setiap SPPG. Kemudian sertifikasi halal, hingga chef atau juru masak wajib punya sertifikat.
"Dengan adanya program MBG yang sudah berjalan ini kami berharap kepada pemerintah program ini terus berlangsung. Siapapun pemimpinya harapan kami MBG tetap berjalan," tandasnya.
Editor : Rosihan Anwar