Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Strategi Pupuk Indonesia Tekan HET dan Kebocoran Subsidi Lewat Inovasi Digital

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 17 Desember 2025 | 22:37 WIB
SMART WAREHOUSE - Gudang Petrokimia Gresik. Anggota Holding Pupuk Indonesia tersebut melakukan digitalisasi di gudang penyimpanan sehingga operasionalnya lebih efisien dan efektif.
SMART WAREHOUSE - Gudang Petrokimia Gresik. Anggota Holding Pupuk Indonesia tersebut melakukan digitalisasi di gudang penyimpanan sehingga operasionalnya lebih efisien dan efektif.

RADAR BALI – PT Petrokimia Gresik (PG) memastikan kesiapan pasokan pupuk bersubsidi nasional yang melimpah menjelang puncak musim tanam Oktober 2025–Maret 2026. Anggota holding Pupuk Indonesia tersebut menyiapkan stok bersubsidi mencapai 441.581 ton dan memperkuat implementasi tata kelola baru berbasis digital untuk menjamin transparansi penyaluran.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional, sejalan dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

“Stok tersebut akan didistribusikan sesuai dengan tata kelola baru yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025,” ujar Daconi dalam keterangan media pada Sabtu (4/10/2025).

Stok di gudang Petrokimia Gresik per 1 Oktober 2025 terdiri dari pupuk urea sebanyak 39.606 ton, NPK Phonska 377.887 ton, pupuk organik 20.900 ton, dan ZA 3.188 ton. Petrokimia Gresik juga menyiapkan stok pupuk nonsubsidi sebanyak 32.619 ton sebagai solusi bagi petani yang tidak memenuhi kriteria penerima subsidi atau kehabisan alokasi.

Secara total hingga akhir Oktober 2025, total stok yang disediakan Holding Pupuk Indonesia mencapai 1,1 juta ton, terdiri dari 1,07 juta ton pupuk subsidi dan 434 ribu ton pupuk nonsubsidi.

Berdasarkan regulasi terbaru, pupuk bersubsidi hanya diberikan kepada petani yang terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok yang kini tersedia secara elektronik (e-RDKK). Selain itu, terdapat batasan luasan lahan, di mana subsidi hanya diperuntukkan bagi petani yang menggarap lahan maksimal dua hektare.

Pemerintah juga membatasi subsidi pupuk pada sepuluh komoditas prioritas, yaitu: padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kakao, kopi, tebu rakyat, dan singkong. Petani di luar kriteria tersebut diarahkan untuk menggunakan pupuk nonsubsidi yang stoknya telah disiapkan merata di berbagai daerah.

Penurunan HET dan Integrasi Digital

Transformasi tata kelola ini membawa kabar baik dengan pemberlakuan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga 20 persen mulai 22 Oktober 2025. Penurunan ini dimungkinkan berkat Perpres Nomor 113 Tahun 2025 yang mengubah mekanisme subsidi ke bahan baku sehingga menciptakan efisiensi produksi pupuk yang hasilnya digunakan untuk alokasi anggaran subsidi pupuk. Penurunan HET juga berimbas pada pertumbuhan konsumsi yang ditandai kenaikan penebusan pupuk bersubsidi dari rata-rata 42 ribu petani per hari menjadi 72 ribu per hari.

Peningkatan efisiensi produksi yang berujung pada penurunan HET tersebut kini dikawal dalam ranah distribusi melalui digitalisasi guna menutup celah-celah klasik yang merugikan keuangan negara. Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Adityo Wibowo mengungkapkan urgensi langkah ini.

"Selama ini masih ada celah klasik seperti data petani fiktif, manipulasi luas lahan, pemalsuan Kartu Tani, hingga alokasi ganda di distributor. Akibatnya, pupuk subsidi sering ‘hilang di jalan’ atau dijual harga komersial. Dengan e-RDKK, petani wajib terdaftar digital dan lahan diverifikasi lewat foto satelit," terang Adityo.

Adityo menambahkan bahwa setiap sak karung pupuk kini memiliki barcode dan QR code yang bisa dilacak dari pabrik hingga ke tangan petani melalui aplikasi i-Pubers (Integrasi Pupuk Bersubsidi). "Kalau ada yang nyasar, kita tahu persis di mana titik bocornya," pungkasnya.

Dengan i-Pubers, sistem penebusan pupuk kini lebih modern karena petani hanya perlu menyerahkan KTP atau kartu perbankan untuk digesek di mesin EDC di titik serah. Dengan demikian, digitalisasi menjadikan tata kelola pupuk bersubsidi lebih transparan, akuntabel, dan efisien sesuai Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025, serta memudahkan petani terdaftar dalam menebus pupuk di titik serah.

"Dengan digitalisasi, Pupuk Indonesia sebagai operator regulasi dapat melaksanakan perubahan-perubahan tata kelola pupuk bersubsidi dengan cepat dan akurat, sehingga petani semakin mudah mendapatkan akses," imbuh Direktur Manajemen Risiko PT Pupuk Indonesia (Persero) Ninis Kesuma Adriani secara terpisah.

Inovasi Hulu: Flex-Phos dan Modernisasi Petro Spring

Di sisi produksi, Petrokimia Gresik mencatat volume impresif 6,36 juta ton berkat teknologi Flex-Phos di fasilitas produksi Fosfat 1 yang diubah menjadi pabrik Phonska V sehingga meningkatkan fleksibilitas produksi NPK nasional.

Inovasi tersebut mengurangi potensi kerugian Rp 107,1 miliar per tahun akibat kehilangan produksi pupuk fosfat sekaligus menghasilkan keuntungan langsung sebesar Rp 175,86 miliar per tahun dari produksi pupuk NPK dan pupuk fosfat.

Petrokimia Gresik juga merealisasi inovasi Intherval yang mengonversi gas buangan di fasilitas package boiler dan waste heat boiler menjadi bahan bakar. Berkat inovasi tersebut, energy losses yang sebelumnya mencapai 5.340 Million Metric British Thermal Units (MMBTU) per bulan berhasil ditekan 99 persen tinggal menjadi 51 MMBTU per bulan.

Selain inovasi perangkat keras di fasilitas produksi, Petrokimia Gresik berupaya mewujudkan visi solusi agrobisnis melalui platform Agrosolution dan Petro Spring. Agrosolution adalah ekosistem pertanian berkelanjutan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, melibatkan perbankan, asuransi, hingga offtaker (pembeli siaga) untuk menjamin produktivitas dan kepastian pasar bagi petani. Program tersebut menjangkau lebih dari 61 ribu petani yang dengan realisasi peningkatan produktivitas yang signifikan.

Sedangkan Petro Spring menggabungkan inovasi pertanian presisi berbasis data (PreciX) untuk rekomendasi pemupukan yang akurat dengan penggunaan drone penyemprot pupuk granule. Di Madiun, penggunaan drone untuk lahan 10 hektare terbukti hanya membutuhkan 2 pekerja dan 8 jam kerja dengan biaya lebih murah sehingga jauh lebih efisien dibanding cara manual yang butuh 12 pekerja selama 4 hari.

"Kombinasi antara teknologi modern dan kesuburan tanah yang terjaga lewat pupuk organik seperti Petroganik akan menghasilkan pertanian yang tangguh dan produktif," tutup Daconi Khotob.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Ibnu Yunianto
#petrokimia gresik #pupuk indonesia #digitalisasi