Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Pertamina Hulu hingga Blu, Ini Pipeline Penawaran Umum Perdana Saham Awal 2026

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 1 Januari 2026 | 06:29 WIB
JELANG IPO - Blu dikabarkan masuk pipeline untuk IPO di awal 2026.
JELANG IPO - Blu dikabarkan masuk pipeline untuk IPO di awal 2026.

RADAR BALI - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap membuka lembaran tahun 2026 dengan langkah yang cukup agresif. Meski pasar kini jauh lebih selektif dalam menyaring calon emiten, antusiasme tidak surut.

Sebanyak 13 perusahaan telah mengantre dalam pipeline Initial Public Offering (IPO) untuk melantai di awal tahun ini.Daftar calon emiten kali ini terbilang istimewa. Tidak hanya sekadar mengejar kuantitas, jajaran perusahaan yang akan go public ini datang dari sektor-sektor strategis yang sangat dinantikan investor.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memberikan catatan positif mengenai pergerakan pasar modal sepanjang tahun lalu. Hingga 5 Desember 2025, tercatat sudah ada 24 perusahaan yang resmi melantai di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 15,21 triliun.

Untuk awal 2026 ini, profil perusahaan yang mengantre pun cukup beragam. Dari 13 perusahaan dalam pipeline, BEI membaginya ke dalam tiga klasifikasi berdasarkan skala aset: Delapan perusahaan raksasa dengan aset skala besar di atas Rp 250 miliar, tiga perusahaan menengah dengan aset di kisaran Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar dan dua perusahaan kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar.

Keberagaman ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi wadah yang inklusif, baik bagi perusahaan mapan maupun perusahaan yang sedang dalam tahap ekspansi cepat di sektor teknologi, transportasi, hingga bahan baku.

Deretan Nama Besar dan Dominasi Konglomerasi

Satu hal yang membuat Januari 2026 terasa berbeda adalah kemunculan nama-nama yang berafiliasi dengan grup konglomerasi besar dan BUMN.

Di sektor perbankan dan keuangan, Bank Jakarta yang merupakan BUMD milik Pemprov DKI Jakarta telah memasuki status pre-efektif. Langkah ini disusul oleh Blu by BCA Digital dari Grup Djarum milik keluarga Hartono yang saat ini tengah melakukan persiapan matang untuk melantai.

Sektor energi dan bahan baku juga tampil sangat dominan. Nama-nama seperti PT Anugrah Neo Energy Materials (Neo Energy) yang terafiliasi dengan Titan Infra Energy milik Handoko A. Tanuadji, serta PT Titan Infra Sejahtera (TIS) dari Titan Group milik keluarga Kalla, keduanya sudah berstatus pre-efektif.

Tak ketinggalan, Medco Power dari Medco Group (keluarga Panigoro) serta dua raksasa BUMN, Pertamina Hulu Energy (PHE) dan Inalum (MIND ID), juga sedang dalam tahap persiapan intensif.

Gurita bisnis Prajogo Pangestu pun dipastikan semakin kuat di bursa. Lewat status finalisasi, dua entitasnya yakni Griya Idola (Barito Pacific) dan INTAM (Intan Media) yang merupakan anak usaha CUAN, siap menyusul jejak kesuksesan emiten Barito lainnya.

Selain itu, Grup RAJA milik Happy Hapsoro juga tengah mempersiapkan salah satu anak usahanya, antara Triguna Internusa Pratama, Petrotech Penta Nusa, atau Heksa Energi Mitraniaga, untuk turut melantai.

Daya tarik IPO awal tahun ini semakin lengkap dengan hadirnya Orang Tua (OT) Group sebagai representasi raksasa FMCG Indonesia, serta Summarecon Investment Property yang memperkuat sektor properti. Kehadiran para pemain besar ini menjadi sinyal kuat bahwa optimisme ekonomi nasional masih terjaga.

Prospek Cerah di Balik Strategi IPO

Masuknya nama-nama seperti Blu oleh BCA Digital dan Pertamina Hulu Energy (PHE) diprediksi akan menjadi penggerak utama indeks harga saham.

Selain itu, ekspansi keluarga Prajogo Pangestu melalui Griya Idola dan INTAM semakin mempertegas dominasi grup Barito di bursa.

Bagi investor, kemunculan Bank Jakarta sebagai representasi BUMD serta perusahaan energi terbarukan seperti Medco Power dan Neo Energy memberikan pilihan diversifikasi yang menarik, baik dari sisi dividen maupun potensi pertumbuhan jangka panjang.

Dengan latar belakang dukungan konglomerasi yang kuat dan fundamental BUMN yang solid, deretan IPO di awal 2026 ini layak masuk dalam daftar pantau utama. Pelaku pasar kini tinggal menunggu pengumuman harga resmi (bookbuilding) untuk menentukan strategi investasi mereka di tahun yang baru.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Januari 2026 #penawaran umum perdana saham #penawaran saham perdana #Summarecon #bank jakarta #Saham #ipo #bursa #cuan #pertamina hulu #bursa efek indonesia #blu by bca #bei #raja #orang tua #inalum #Medco