RADAR BALI - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada Kamis (29/1/2026).
Langkah darurat ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga menyentuh angka 8 persen.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan bahwa pembekuan sistem perdagangan di Jakarta Automated Trading System (JATS) dilakukan tepat pada pukul 09:26:01 WIB.
"Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%," ujar Kautsar dalam keterangan resminya.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG langsung dibuka melemah ke level 7.654. Hingga pukul 09.40 WIB, tercatat volume transaksi mencapai 13.079 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 10,9 triliun.
Kondisi pasar menunjukkan dominasi aksi jual yang masif, di mana 658 saham anjlok, sementara hanya 33 saham yang berhasil menguat dan 20 saham lainnya stagnan.
Pihak otoritas bursa menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk memastikan perdagangan tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.
Langkah ini sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Perdagangan pun dijadwalkan kembali berlanjut pada pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa adanya perubahan pada jadwal perdagangan harian.
Analisis Penyebab Kejatuhan Pasar
Tekanan signifikan pada IHSG terutama berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di sektor perbankan dan energi. Beberapa faktor utama yang memicu kepanikan pasar antara lain:
Sentimen MSCI: Investor cenderung melakukan aksi jual sebagai respons terhadap rencana perubahan aturan free float oleh MSCI yang akan diumumkan akhir Januari 2026.
Suku Bunga dan Rupiah: Ketidakpastian kebijakan BI-Rate yang berada di level 4,75% serta volatilitas nilai tukar Rupiah menekan sektor perbankan.
Aksi Jual Pemegang Saham Besar: Di sektor energi, saham BUMI mengalami penurunan tajam akibat aksi jual bertahap oleh pemegang saham besar seperti Chengdong Investment Corporation (CIC).
Kondisi pasar yang memburuk pada akhir Januari 2026 memberikan tekanan hebat pada deretan saham berkapitalisasi besar (big caps) dan sektor energi.
Saham perbankan yang biasanya menjadi penopang indeks tidak luput dari aksi jual masif. Bank BRI (BBRI) mencatatkan penurunan harian sebesar 6,02% yang membawa harganya ke level estimasi Rp3.590, sekaligus menyeret performa tahun berjalannya (YTD) ke zona negatif sebesar 1,91%.
Nasib serupa dialami oleh Bank Mandiri (BMRI) yang terkoreksi tajam 5,20% ke posisi Rp4.560. Penurunan ini memperparah kinerja tahunan BMRI yang sudah merosot hingga 11,02% sejak awal tahun.
Di sisi lain, Bank BNI (BBNI) cenderung lebih defensif meski tetap melemah 1,33% ke rentang Rp4.330 hingga Rp4.450.
Menariknya, BBNI menjadi satu-satunya di kelompok ini yang masih mampu mempertahankan performa YTD positif di angka 2,30%.
Sementara itu, guncangan paling keras terjadi pada sektor energi, khususnya Bumi Resources (BUMI).
Saham ini anjlok sedalam 14,53% dalam satu hari perdagangan dan terpuruk ke level Rp294.
Dengan pergerakan yang sangat fluktuatif, kejatuhan BUMI semakin mempertegas tingginya tekanan jual yang melanda bursa secara keseluruhan dalam periode dua hari tersebut.
Kepanikan massal ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak sesi perdagangan 28 Januari, di mana banyak saham unggulan terkoreksi di atas 5 persen dalam satu hari sebelum akhirnya mencapai puncaknya pada perdagangan hari ini.***
Editor : Ibnu Yunianto