RADAR BALI - Memasuki bulan Februari 2026, pasar emas domestik mengalami dinamika yang cukup kontras.
Setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi pada akhir Januari, harga emas di Indonesia menunjukkan tren koreksi yang signifikan dalam sepekan terakhir.
Analisis Grafik dan Tren Harga
Berdasarkan data pasar sejak tanggal 1 hingga 7 Februari 2026, ketiga merek emas utama (Antam, Galeri 24, dan UBS) menunjukkan pola penurunan yang serupa, terutama menjelang akhir pekan.
Emas Antam: Mengawali Februari dengan posisi yang sangat kuat di kisaran Rp 2,9 - Rp 3,0 juta per gram. Namun, pada Kamis (5/2), harga mulai merosot sebesar Rp 17.000 dan bertahan di angka Rp 2.890.000 per gram hingga hari Sabtu (7/2).
Emas UBS: Menunjukkan volatilitas yang cukup tajam. Pada Jumat (6/2), harga berada di Rp2.988.000, namun turun Rp 27.000 ke level Rp 2.961.000 per gram pada hari ini.
Emas Galeri 24: Produk ritel dari anak perusahaan Pegadaian ini juga mengikuti arus pasar. Dari harga Rp 2.974.000 pada hari Jumat, harganya terkoreksi menjadi Rp 2.946.000 per gram pada penutupan pekan ini.
Perbandingan Harga (1 Gram)
Memasuki akhir pekan pertama di bulan Februari 2026, pergerakan harga emas di pasar domestik menunjukkan tren yang bervariasi.
Harga emas Antam terpantau tidak mengalami perubahan dibandingkan hari sebelumnya, bertahan stabil di level Rp 2.890.000 per gram.
Kondisi stagnan pada emas Antam ini berbanding terbalik dengan dua merek lainnya yang justru mengalami koreksi cukup tajam. Emas UBS mencatatkan penurunan sebesar Rp 27.000, sehingga kini dibanderol seharga Rp 2.961.000 per gram.
Senada dengan itu, emas Galeri 24 mengalami penurunan yang sedikit lebih dalam, yakni merosot Rp 28.000 dari harga sebelumnya menjadi Rp 2.946.000 per gram.
Penurunan serentak pada UBS dan Galeri 24 ini memperlihatkan adanya tekanan jual yang lebih dinamis pada produk emas ritel dibandingkan emas produksi Antam pada periode ini.
Faktor Pendorong Penurunan
Beberapa faktor utama yang memengaruhi tren penurunan ini antara lain:
Penguatan Rupiah: Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.250 per dolar AS. Penguatan mata uang domestik sering kali menekan harga emas lokal meski harga global tetap stabil.
Profit Taking: Setelah harga emas menembus rekor tertinggi di akhir Januari, banyak investor melakukan aksi ambil untung yang memicu tekanan jual di pasar.
Kebijakan Ekonomi Global: Adanya ketidakpastian kebijakan perdagangan di Amerika Serikat membuat sebagian investor beralih sementara ke aset tunai atau obligasi.
Prediksi Harga Emas: Minggu Depan (8 - 14 Februari 2026)
Untuk seminggu ke depan, harga emas diprediksi akan mengalami konsolidasi dengan potensi kenaikan tipis.
Skenario Bullish (Naik): Jika ketidakpastian ekonomi global meningkat kembali, emas diprediksi akan melompat lagi menuju level Rp 3.000.000 per gram.
Analis memproyeksikan target harga global bisa menyentuh USD 4.700 per ons yang jika dikonversi dapat mendongkrak harga lokal.
Skenario Bearish (Turun/Stabil): Namun, jika rupiah terus menguat di bawah Rp 16.000 per dolar AS, harga emas kemungkinan akan bergerak stagnan atau mengalami penurunan terbatas di rentang Rp 2.850.000 - Rp 2.920.000.
Saran Investasi: Bagi investor jangka panjang, penurunan di minggu pertama Februari ini bisa menjadi momentum buy on weakness (membeli saat harga turun) sebelum harga kembali naik mengikuti tren tahunan yang diprediksi tetap akan bullish sepanjang 2026.***
Editor : Ibnu Yunianto