Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menaker Soroti Pekerja 10–20 Tahun Tak Berkembang: Perusahaan Harus Buka Ruang Belajar

Rosihan Anwar • Selasa, 10 Maret 2026 | 09:35 WIB

Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli.
Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli.

radarbali.jawapos.com — Peran perusahaan tidak cukup hanya menyediakan lapangan kerja. Hal itu ditegaskan oleh Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli.

Dunia usaha juga perlu memberikan ruang bagi pekerja untuk terus berkembang melalui peningkatan keterampilan dan kesempatan belajar.

Menurut Yassierli, pekerja seharusnya tidak berada dalam posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa peluang untuk meningkatkan kapasitas diri, terlebih di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.

Ia menilai pengembangan pekerja merupakan bagian penting dari terciptanya hubungan industrial yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan.

Selain itu, investasi pada peningkatan kemampuan pekerja juga menjadi strategi jangka panjang yang dapat memperkuat daya tahan perusahaan.

“Ini harus kita pahami sebagai sebuah strategi. Ketika kita memampukan pekerja, ketika kita memberdayakan mereka, maka itu akan memberikan long-term effect bagi perusahaan dalam jangka panjang,” ujar Yassierli.

Yassierli menjelaskan, pekerja yang merasa didukung oleh perusahaan tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga memiliki rasa keterikatan dan semangat untuk memberikan kontribusi lebih bagi tempat mereka bekerja.

“Memberdayakan pekerja itu artinya membuat pekerjaan mereka menjadi meaningful. Mereka memiliki engagement, mereka memiliki semangat yang bahkan bisa melampaui sekadar menjalankan tugas mereka,” kata Yassierli.

Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah dalam hubungan antara pekerja dan perusahaan.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan sosial yang menjadi karakter bangsa Indonesia dan perlu terus dijaga dalam praktik hubungan industrial.

“Ada yang hilang dari DNA kita. Kita ini bangsa yang punya semangat gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah. Menurut saya DNA ini harus kita bangkitkan kembali,” tuturnya.

Yassierli mengaku prihatin apabila masih terdapat pekerja yang telah bekerja selama satu hingga dua dekade tanpa mengalami perkembangan kemampuan maupun karier.

Kondisi tersebut, menurutnya, tidak seharusnya dianggap sebagai hal yang wajar karena setiap individu memiliki potensi untuk berkembang.

“Yang juga membuat saya sedih adalah ketika ada orang bekerja 10 tahun, bahkan 20 tahun di perusahaan, tetapi tidak berkembang. Padahal manusia itu memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membantu pekerja mengenali serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan keterampilan.

“Siapa pun punya potensi untuk berkembang. Tugas kita adalah membantu menemukan dan mengoptimalkan potensi itu,” kata Yassierli.

Sebagai contoh, Yassierli mendorong para pekerja di berbagai posisi untuk terus mempelajari hal-hal baru, termasuk keterampilan komputer.

Ia menilai kemampuan tersebut penting agar pekerja mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan kerja.

“Driver saya dorong untuk belajar komputer. Satpam dan OB juga saya dorong untuk belajar komputer. Karena kita tidak ingin mereka selamanya hanya berada di posisi itu,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa dunia kerja ke depan akan diwarnai ketidakpastian yang semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi kunci bagi pekerja maupun perusahaan.

“Tantangan ke depan itu tidak mudah. Ketidakpastian sekarang sangat tinggi. Karena itu agility menjadi kunci,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Yassierli juga berharap PT Jasa Marga dapat menjadi contoh perusahaan yang mampu menjaga hubungan industrial tetap harmonis sekaligus mempersiapkan pekerja menghadapi tantangan masa depan.

“Saya berharap Jasa Marga bisa menjadi salah satu perusahaan yang menunjukkan contoh bagaimana perusahaan memanusiakan pekerja dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan ke depan,” pungkasnya.

 

Editor : Rosihan Anwar
#jasa marga #Menaker Yassierli