RADAR BALI - Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh rakyat Indonesia bersiap menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah.
Pernyataan disampaikan Presiden dalam agenda peresmian 218 jembatan secara virtual yang ditayangkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (9/3).
Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menutupi kenyataan pahit mengenai kondisi dunia saat ini.
Dia menjanjikan transparansi penuh dalam menghadapi potensi krisis yang mulai membayangi stabilitas nasional.
Presiden menyatakan akan segera menyampaikan taklimat khusus kepada seluruh bangsa Indonesia untuk menjelaskan langkah-langkah strategis pemerintah.
Menurutnya, sikap jujur dan keterbukaan adalah kunci utama dalam memimpin rakyat melewati masa sulit.
"Kita menghadapi kesulitan dengan sikap kita ingin mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan," ujarnya.
Prabowo menambahkan bahwa persaingan kekuatan besar dunia saat ini berpotensi menyeret banyak negara ke dalam situasi ekonomi yang semakin sulit.
Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu keluar dari krisis dalam kondisi yang lebih kuat, makmur, dan berdikari.
Tekanan Ekonomi dan Ancaman "Armagedon" Fiskal
Kekhawatiran presiden sejalan dengan kondisi pasar terkini. Gejolak di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
Pada perdagangan Senin (9/3), rupiah resmi menembus angka Rp17.000 per dolar AS.
Situasi ini memantik peringatan keras dari para ahli. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut lonjakan harga minyak ini sebagai ancaman armagedon tekanan fiskal terburuk sejak pandemi Covid-19.
Bhima memperkirakan defisit APBN bisa melebar hingga Rp 314 triliun jika tren kenaikan harga minyak terus berlanjut.
Ketahanan Pangan dan Energi sebagai Benteng
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah fokus memperkuat ketahanan nasional pada dua sektor vital: pangan dan energi.
Presiden menyampaikan rasa syukur karena upaya panjang menuju swasembada pangan mulai menunjukkan hasil nyata, termasuk pada komoditas beras dan pemenuhan kebutuhan protein.
Selain pangan, kemandirian energi terus didorong melalui pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.
Prabowo menekankan bahwa persatuan nasional adalah modal utama bangsa.
Dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap bekerja keras dan menjaga kerukunan di tengah ketidakpastian global yang melanda dunia.***
Editor : Ibnu Yunianto