JAKARTA, radarbali.jawapos.com — Upaya memperkuat kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
su-re. co (Sustainability & Resilience) bersama ENTREV, program kolaborasi Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme, serta Spora Institute, menyelenggarakan Workshop Penyelarasan Kurikulum dan Program Pelatihan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Roda Dua di Jakarta.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, lembaga pendidikan vokasi, industri, dan lembaga sertifikasi profesi untuk membahas langkah konkret dalam menyelaraskan kurikulum SMK dan program pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri kendaraan listrik roda dua.
Workshop ini juga mendapat dukungan dari P4G – Partnering for Green Growth and the Global Goals 2030, sebuah inisiatif global yang mempromosikan pioneering green partnerships guna mempercepat solusi pembangunan rendah karbon melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.
Selain itu, kegiatan ini didukung oleh ViriyaENB, sebuah organisasi filantropi yang berfokus pada pengembangan kebijakan berbasis bukti dan inovasi untuk mempercepat transisi energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Menjawab Tantangan Kesenjangan Keterampilan
Pemerintah Indonesia menargetkan sekitar 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik beroperasi pada tahun 2030 sebagai bagian dari strategi transisi energi bersih dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
Transformasi industri otomotif ini memunculkan kebutuhan keterampilan baru yang berbeda dari kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE).
Teknisi kendaraan listrik membutuhkan kompetensi tambahan seperti sistem kelistrikan kendaraan, Battery Management System (BMS), sistem kontrol elektronik, serta prosedur keselamatan dalam penanganan sistem tegangan tinggi.
Namun, saat ini masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri kendaraan listrik.
Studi yang dipaparkan dalam workshop menunjukkan bahwa dari sekitar 125.000 lulusan teknik sepeda motor setiap tahun, hanya sebagian kecil yang memiliki kompetensi terkait kendaraan listrik.
Padahal, industri kendaraan listrik roda dua diproyeksikan membutuhkan sekitar 59.500 hingga 86.700 tenaga kerja bersertifikasi pada tahun 2030, yang tersebar di sektor manufaktur, layanan purna jual (aftersales), dan konversi kendaraan.
Penyelarasan Kurikulum Berbasis Kebutuhan Industri
Dalam workshop ini, perwakilan kementerian terkait—termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Ketenagakerjaan—menyampaikan berbagai kebijakan untuk memastikan sistem pendidikan vokasi mampu merespons dinamika teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Salah satu pendekatan yang didorong adalah pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri melalui integrasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), penguatan sertifikasi kompetensi, serta peningkatan kolaborasi antara sekolah, lembaga pelatihan, dan dunia usaha.
“Transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya soal teknologi dan investasi, tetapi juga kesiapan tenaga kerja. Penyelarasan kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri menjadi langkah strategis agar Indonesia mampu membangun ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan,” ujar perwakilan penyelenggara dalam kegiatan tersebut.
Kolaborasi untuk Ekosistem Kendaraan Listrik
Workshop ini menegaskan bahwa pengembangan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia pendidikan, industri, dan mitra pembangunan.
Selain penguatan kurikulum, aspek lain yang juga menjadi perhatian adalah peningkatan kapasitas guru, pengembangan fasilitas praktik di sekolah, serta keterlibatan industri melalui program magang dan teaching factory.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan juga mengidentifikasi berbagai tantangan implementasi di lapangan, termasuk kebutuhan infrastruktur pembelajaran, penyusunan standar kompetensi baru, serta perlunya regulasi yang lebih fleksibel agar pendidikan vokasi dapat lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Ke depan, penyelarasan kurikulum dan penguatan pelatihan vokasi diharapkan dapat menjadi fondasi penting dalam menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan siap bersaing dalam industri kendaraan listrik global, sekaligus mendukung agenda transisi energi bersih nasional.
Tentang su-re.co
su-re.co adalah perusahaan sosial berbasis di Bali yang menggabungkan penelitian, edukasi, dan inovasi untuk mewujudkan solusi berkelanjutan di bidang lingkungan dan pertanian.
Sejak berdiri, su-re.co telah bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas lokal hingga lembaga internasional, untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya alam.
Editor : Rosihan Anwar