DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Tak terkecuali di Bali, Bank Indonesia Provinsi Bali menggelar Pusat Inovasi Digital Indoensia (PIDI). Kegiatan ini dimulai Kamis (12/3) hingga nantinya pengumuman pemenang di bulan September 2026 mendatang.
Melalui kegiatan ini, Bank Indoensia ingin menjaring para talenta digital yang unggul.
Di Bali sendiri, event ini secara resmi dibuka di kampus Universitas Warmadewa, Denpasar pada Kamis (12/3).
Indra Gunawan Sutarto selaku advisor Kantor Bank Indonesia Provinsi Bali mengatakan, pihaknya mengajak semua pihak untuk terlibat langsung.
Hal ini dikarenakan kan event berbarengan dengan DIGDAYA dan Hackathon ini mengakselerasi digital ke dunia industri.
”Ini kerjasama BI Dengan OJK dan asosiasi lain akan merekrut sekitar 800 tim. Rekan-rekan silahkan masukkan proposal sebanyak-banyaknya dan akan diseleksi sampai 800 tim dan ikut dan mempersiapkan proyek-proyeknya.
Ada job fairnya juga. Dan jangan lupa ada hadiahnya juga dengan total mencapai Rp1,4 miliar rupiah," katanya di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.
Dia mengatakan lebih jauh, bahwa event ini merupakan kompetisi Inovasi yang juga untuk mewujudkan Bali sebagai Pulau Digital.
Dia mengurai, bahwa tahun 2025 lalu, ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen. Hal ini menjadikan yang tertinggi ke 5 secara nasional. Pertumbuhan ini didukung oleh inflasi yang relatif terjaga.
”Hal ini menunjukan pertumbuhan ekonomi kita sangat berkualitas karena didukung perkembangan harga yang sangat stabil. Tapi saya yakini ekonomi Bali ini bisa tumbuh lebih tinggi lagi. 5,82 persen itu sebetulnya bisa di-push lebih tinggi lagi di atas 6 persen," tambahnya.
Dia melanjutkan, bahwa secara teori pertumbuhan ekonomi ini bisa didorong lebih tinggi lagi. Beberapa penelitian empiris menyebut bahwa teknologi atau digitalisasi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Oleh sebab itu, sejak tahun 2019 lalu, Bank Indonesia mendorong digitalisasi secara nasional.
Di Bali misalnya, Bank Indonesia mjtelah menjalani beberapa program dan festival inovasi digital seperti Baligiviation, Pekan QRIS, hingga Qris Cross Border bagi wisatawan.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali, I Made Artana mengatakan, kegiatan PIDI ini sangat relevan dengan apa yang dikembangkan dan dibutuhkan Bali saat ini.
Menurut dia, kemajuan digital perlu menjadi bagian terpenting dari ekonomi Bali. Industri pariwisata cukup rentan. Beberapa peristiwa seperti Covid 19 bisa dengan mudah membuat ekonomi Bali ambruk.
”Dalam banyak perjalanan kita belajar, industri pariwisata gampang sekali terganggu dengan banyak hal. Kita kemarin terganggu karena covid, dan sekarang karena perang.
Kita mulai belajar untuk tidak terlalu dominan bergantung pada sektor pariwisata," sebutnya. Dia mengungkap bahwa digital nomad yang bekerja secara digital dari pulau Dewata.
Bahkan Bali menempati urutan kedua setelah Barcelona sebagai tempat yang menjadi favorit para digital nomad.
”Kita butuh mesin pertumbuhan ekonomi baru, di berbagai belahan dunia mesin pertumbuhan ekonomi baru ini adalah sektor kreatif dan ekonomi digital karena pertumbuhannya lebih cepat. Salah atu prioritas saat ini adalah mewujudkan Bali sebagai pulau digital," pungkasnya.
Editor : Rosihan Anwar