Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

BI Tahan Suku Bunga Acuan, Kurs Rupiah Diprediksi Melemah Hingga Rp 17.400

Dhian Harnia Patrawati • Jumat, 24 April 2026 | 07:22 WIB
TERPURUK - Nilai tukar Rupiah hari ini mencatat rekor terendah imbas  kekhawatiran terhadap kelanjutan perang Iran-Israel-AS.
TERPURUK - Nilai tukar Rupiah hari ini mencatat rekor terendah imbas kekhawatiran terhadap kelanjutan perang Iran-Israel-AS.

 

RADAR BALI – Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kian tak terbendung pada perdagangan Jumat, 24 April 2026.

Mata uang Garuda pada perdagangan Kamis (23/4) terperosok ke level psikologis baru yang mengkhawatirkan, menyentuh angka Rp 17.304 per dolar AS pada pukul 13.32 WIB. 

Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 123 poin atau 0,72 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.181.

Kondisi ini menempatkan Rupiah dalam posisi terjepit di tengah badai ketidakpastian global yang kian memanas.

Selain terhadap dolar AS, mata uang utama lainnya juga memberikan tekanan serupa. Euro kini bertengger di kisaran Rp 18.450–Rp 18.600, sementara dolar Singapura berada di level Rp 12.850–Rp 13.000, dan Poundsterling menembus angka Rp 21.500.

Gagalnya Diplomasi dan Bara di Selat Hormuz

Pemicu utama pelemahan tajam ini berasal dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Kegagalan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan menjadi katalis negatif utama. Iran memutuskan menarik diri dari perundingan setelah AS dianggap melanggar aturan gencatan senjata dengan menahan kapal tanker Iran yang melintasi Selat Hormuz.

Tuntutan AS agar Selat Hormuz bebas tarif dan pengalihan pengayaan uranium ke pihak Amerika ditolak mentah-mentah oleh Teheran karena dianggap menginjak kedaulatan mereka.

Dampaknya, Iran menyatakan siap menghadapi perang berkepanjangan, yang memicu kekhawatiran serius terhadap rantai pasok energi dunia.

Dilema Impor Minyak dan Beban APBN

Konflik tersebut langsung melambungkan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent kini telah menembus USD 103 per barel, jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang hanya mematok angka maksimal USD 92 per barel.

Sebagai negara importir neto minyak, kenaikan ini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas fiskal Indonesia.

Situasi kian pelik dengan tersendatnya operasional kapal tanker Pertamina di kawasan Asia Barat. Kondisi ini diprediksi akan memperlebar defisit anggaran, mengingat beban subsidi BBM seperti Pertalite dipastikan membengkak.

Meskipun pemerintah telah menyesuaikan harga BBM non-subsidi, IMF sempat memperingatkan agar Indonesia mulai mengurangi subsidi komoditas guna menjaga ketahanan nilai tukar.

Strategi Bank Indonesia di Tengah Ketidakpastian

Di tengah gempuran eksternal tersebut, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah hati-hati.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (23/4), Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 %.

"Keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan saat ini, yakni upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Bank Sentral juga tetap mempertahankan Deposit Facility sebesar 3,75 % dan Lending Facility sebesar 5,5 %.

Senada dengan itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa otoritas moneter akan konsisten melakukan intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Saat ini, BI mengandalkan cadangan devisa yang masih cukup kuat di angka USD 148,2 miliar untuk meredam volatilitas.

Proyeksi Melemah ke Rp17.400

Meski BI terus melakukan intervensi, sentimen domestik tetap dibayangi oleh utang pemerintah yang mendekati masa jatuh tempo dalam jumlah besar.

Dengan target kurs APBN 2026 yang semula dipatok Rp 16.500 kini sudah melesat ke Rp 17.300, pemerintah dipaksa mencari dana ekstra untuk menutupi kebocoran anggaran impor minyak mentah.

Para analis memprediksi jika ketegangan di Selat Hormuz tidak segera mereda, tekanan terhadap mata uang Garuda akan berlanjut.

Bukan tidak mungkin pada akhir April atau minggu depan, nilai tukar Rupiah akan menembus level Rp 17.400 per dolar AS. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada menghadapi volatilitas tinggi ini sebelum munculnya peluang untuk rebound teknis.***

Editor : Ibnu Yunianto
#kurs idr usd #kurs rupiah #bank indonesia #Rupiah hari ini #harga minyak dunia