RADAR BALI – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok tajam 3,26 persen ke level 7.138,32 pada penutupan sesi II, Jumat (24/4/2026).
Sentimen negatif global dan domestik memicu aksi jual masif, terutama oleh investor asing yang melepas saham-saham big caps.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing melakukan aksi jual besar-besaran dengan total penjualan mencapai Rp 5 triliun.
Sementara itu, total pembelian hanya berada di angka Rp 3,0 triliun, sehingga mencatatkan penjualan bersih (net sell) asing sebesar Rp 2 triliun.
Aksi buang saham ini dipicu oleh sejumlah faktor krusial, di antaranya:
Pelemahan Rupiah: Nilai tukar Rupiah menembus level psikologis baru di angka Rp 17.286 per Dollar AS.
Geopolitik: Ketidakpastian di Selat Hormuz akibat ketegangan AS-Iran memicu aksi risk-off global.
Rating Kredit: Penurunan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings.
Perbankan Jadi Sasaran Utama: Mengapa BBCA Dilepas?
Merinci data Indo Premier, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi penekan utama setelah mencatatkan net sell fantastis mencapai Rp 1,3 triliun. Langkah ini diikuti oleh pelepasan saham perbankan plat merah lainnya seperti BBRI dan BMRI.
Pelepasan masif pada saham BBCA bukan mencerminkan kinerja internal perseroan, melainkan murni faktor makroekonomi.
Sebagai saham dengan kapitalisasi pasar terbesar dan paling likuid, BBCA menjadi instrumen utama bagi investor asing untuk menarik dana (capital outflow) guna mengamankan aset di tengah menyusutnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar.
Selain itu, sektor perbankan sangat sensitif terhadap penurunan outlook kredit nasional serta ancaman stagflasi global yang membayangi pertumbuhan ekonomi.
Daftar 10 Saham Net Sell Terbesar:
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp 1,3 triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp 287,5 miliar
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp 192,4 miliar
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – Rp 70,4 miliar
PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) – Rp 55,5 miliar
PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) – Rp 43,3 miliar
PT Petrosea Tbk. (PTRO) – Rp 27,9 miliar
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) – Rp 26,2 miliar
PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN) – Rp 24,7 miliar
PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. (PACK) – Rp 23,8 miliar
Minat Beli Terbatas di Sektor Komoditas
Di tengah koreksi dalam, investor asing terpantau masih melakukan akumulasi pada beberapa saham secara terbatas, terutama di sektor komoditas dan energi yang diuntungkan oleh kenaikan harga global akibat tensi geopolitik.
Daftar 10 Saham Net Buy Terbesar:
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) – Rp 35,2 miliar
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp 33,1 miliar
PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) – Rp 23,9 miliar
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) – Rp 21,4 miliar
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – Rp 20,3 miliar
PT Sinar Terang Mandiri Tbk. (EMAS) – Rp 20,3 miliar
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) – Rp 19,0 miliar
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) – Rp 18,2 miliar
PT Astra International Tbk. (ASII) – Rp 15,0 miliar
PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) – Rp 14,6 miliar
Ringkasan Statistik Pasar
Penutupan perdagangan sesi II menunjukkan dominasi warna merah di seluruh papan pengumuman.
Sebanyak 642 saham melemah, berbanding terbalik dengan hanya 90 saham yang menguat, sementara 82 saham lainnya stagnan.
Total nilai transaksi harian mencapai Rp 15,02 triliun dengan volume perdagangan sekitar 28,6 miliar saham.
Pelemahan terdalam secara sektoral dipimpin oleh indeks infrastruktur (IDXINFRA) dan energi (IDXENERGY).***
Editor : Ibnu Yunianto