TABANAN, RadarBali.id – Di tengah bayang-bayang pelemahan nilai tukar Rupiah dan ketidakpastian situasi global akibat konflik di Timur Tengah, kabar baik justru datang dari sektor ketenagakerjaan di Kabupaten Tabanan.
Baca Juga: Wujudkan Transformasi Ekonomi, BIC 2026 Jaring Proyek Investasi Unggulan di Bali
Bukannya menyusut, ketersediaan lowongan kerja di wilayah ini justru menunjukkan tren positif yang signifikan.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tabanan dalam Forum Konsultasi Publik, Kamis (7/5/2026), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Tabanan tercatat turun dari 1,85 persen pada tahun 2024 menjadi 1,58 persen di tahun 2025.
Kepala BPS Tabanan, Ni Putu Minarni, menjelaskan bahwa penurunan sebesar 0,27 persen ini mencerminkan pemulihan ekonomi yang kian solid serta meningkatnya aktivitas pada sektor-sektor utama penyerap tenaga kerja.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor-sektor kunci di Tabanan kembali bergeliat pascapandemi,” ujar Minarni.
Sektor Penopang Utama Data BPS mencatat tiga sektor utama yang menjadi penyelamat pasar kerja di Tabanan:
1. Perdagangan Besar, UMKM, dan Eceran: Menyerap tenaga kerja tertinggi sebesar 19,68 persen.
2. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Menempati posisi kedua dengan serapan 19,22 persen.
3. Akomodasi dan Makan Minum (Kuliner): Menyumbang serapan sebesar 14,85 persen.
Menariknya, sektor pertanian tetap menjadi pilar utama meski dibayang-bayangi isu alih fungsi lahan. “Pertanian di Tabanan tetap menjadi penyangga utama pasokan kebutuhan pokok, sehingga lapangan kerja di sektor ini terus tersedia,” tambahnya.
Tantangan Skill Mismatch dan Fenomena NEET
Meski angka pengangguran menurun, BPS memberikan catatan kritis terkait kualitas angkatan kerja. Saat ini, angkatan kerja di Tabanan didominasi oleh lulusan SMA/SMK (39%) dan pendidikan tinggi (21%). Namun, seringkali kualifikasi tersebut tidak sejalan dengan lapangan kerja yang tersedia (skill mismatch).
Selain itu, BPS juga menyoroti adanya 4.310 pemuda yang masuk dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, and Training). Kelompok ini mencakup mereka yang tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan, termasuk ibu rumah tangga muda yang memilih fokus pada hobi.
"Penting bagi kita ke depan untuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang tidak hanya berkelanjutan, tapi juga berupah layak dan adaptif terhadap perkembangan teknologi guna mengatasi potensi tenaga kerja muda yang belum terserap maksimal," tandas Minarni. [*]
Editor : Hari Puspita