RADAR BALI - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa volatilitas yang melanda sektor finansial domestik akhir-akhir ini hanyalah respons temporer dari para pelaku pasar.
Sektor riil yang memiliki basis kuat diyakini mampu membawa atmosfer positif bagi pemulihan instrumen investasi dalam waktu dekat.
"Gak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek," kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Purbaya menegaskan situasi saat ini akan segera dibenahi, mengingat indikator makroekonomi dalam negeri berada dalam kondisi prima, sehingga kepanikan sesaat ini tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Koreksi Tajam pada Pembukaan Saham dan Mata Uang
Aktivitas bursa domestik langsung disambut rapor merah begitu lonceng perdagangan berbunyi.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG langsung merosot ke zona negatif dengan depresiasi awal sebesar 1,40% ke angka 6.447,97.
Tekanan jual yang masif membuat IHSG kian tertekan hingga anjlok melampaui 2,59 % pada menit-menit awal, dan terus terpuruk hingga menyentuh koreksi 4,3 % di area 6.428 dalam satu jam pertama.
Keadaan serupa juga menimpa mata uang Garuda. Berdasarkan data riil pasar, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan sebesar 1,15 % yang membawa posisinya melemah ke angka Rp17.660 per dolar AS.
Langkah Strategis Tahan Arus Modal Keluar
Gejolak eksternal diidentifikasi sebagai pemicu utama dari dinamika pasar yang terjadi saat ini. Menghadapi situasi tersebut, fokus utama otoritas keuangan adalah mengawal target ekspansi domestik agar tidak mengalami stagnasi akibat faktor luar.
"Saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," jelasnya.
Selain memantau pergerakan IHSG dan mata uang, intervensi taktis juga diarahkan pada sektor surat utang negara melalui aksi korporasi yang lebih masif.
"Kita sudah masuk tapi hanya sedikit, mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali," ujar Purbaya.
Langkah taktis di pasar sekunder ini diambil untuk mengantisipasi kepanikan pemegang aset asing akibat penurunan nilai portofolio mereka.
"Sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss karena harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," paparnya.***
Editor : Ibnu Yunianto