Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

IHSG Ambles 3,59 % dan Rupiah Sentuh Level Terlemah Rp 17.730 per Dolar AS

Dhian Harnia Patrawati • Selasa, 19 Mei 2026 | 15:24 WIB
Ilustrasi uang pecahan dolar dan rupiah
Ilustrasi uang pecahan dolar dan rupiah

RADAR BALI – Tekanan hebat melanda pasar keuangan domestik pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.

Kombinasi aksi jual masif oleh investor asing dan lonjakan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah terperosok dalam ke zona merah pada penutupan sesi perdagangan kedua hari ini.

IHSG menutup hari dengan koreksi tajam, menjadikannya salah satu bursa dengan performa terburuk di kawasan Asia. Sejalan dengan kejatuhan indeks saham, nilai tukar rupiah juga kian menjauh dari asumsi makro dan mencatatkan rekor terlemahnya tahun ini.

IHSG Sesi II Ditutup Anjlok ke Level 6.362

Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi kedua pukul 15.10 WIB, IHSG terkapar di level 6.362,02.

Indeks saham domestik ini terpangkas sebesar 3,59 persen (atau melemah sekitar 237 poin) dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level 6.599,24.

Meskipun sempat dibuka stabil di level 6.599,21 dan merangkak naik ke zona hijau hingga menyentuh titik tertinggi harian di 6.635,12 pada awal perdagangan, indeks langsung berbalik arah akibat tekanan jual yang masif.

Sektor Energi dan Pertambangan Jadi Pemberat Utama

Kejatuhan IHSG utamanya dimotori oleh merosotnya saham-saham di sektor barang baku dan energi. Beberapa emiten yang mencatatkan penurunan terdalam (top losers) pada perdagangan hari ini antara lain:

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO): Ambles 14,9 persen.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Jatuh 14,7 persen.

PT Indika Energy Tbk (INDY): Drop 14,6 persen.

PT Timah Tbk (TINS): Merosot 14,36 persen.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Terdepresiasi 10,1 persen.

Aktivitas perdagangan di lantai bursa sepanjang hari ini berlangsung sangat masif dengan nilai transaksi menembus Rp 15,13 triliun dan volume perdagangan mencapai 27,96 miliar lembar saham.

Tekanan diperparah oleh gelombang aliran modal keluar (capital outflow) investor asing yang enggan mengambil risiko di pasar berkembang (emerging markets).

Kurs Rupiah Kian Loyo, Tembus Rp17.738 per Dolar AS

Kondisi tidak kalah memprihatinkan terjadi di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan tren pelemahan yang mengkhawatirkan sepanjang hari.

Berdasarkan data pasar spot dan Google Finance pada siang hingga sore hari ini, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.738 per dolar AS. 

Angka ini merosot signifikan dibandingkan pembukaan pagi hari di level Rp 17.675 per dolar AS, sekaligus menandai level terlemah mata uang garuda sepanjang tahun 2026 berjalan.

Posisi kurs rupiah saat ini sudah jauh melampaui target nilai tukar yang sebelumnya dipatok pemerintah sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Geopolitik dan Yield US Treasury Jadi Pemicu Utama

Para analis dan tim riset sekuritas menilai ada beberapa faktor utama yang menekan pasar keuangan dalam negeri hari ini:

Lonjakan Yield US Treasury: Tingkat imbal hasil obligasi AS bertahan tinggi di kisaran 4,6 persen, memicu investor global menarik dananya dari aset berisiko di negara berkembang untuk dialihkan ke aset safe haven.

Ketegangan Geopolitik Global: Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan volatilitas pasar energi dunia menjaga indeks dolar AS kokoh di level 99,03, sementara harga minyak mentah dunia masih tertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Sentimen Domestik: Adanya isu kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas tertentu serta agenda peninjauan indeks FTSE Russell ikut menambah volatilitas di pasar saham lokal.

Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar melalui pendekatan pengelolaan volatilitas, bukan sekadar mematok level angka tertentu.

BI diprediksi akan terus menggencarkan intervensi di pasar valas serta memperkuat kebijakan moneter demi meredam gejolak yang ada.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga Bitcoin saat ini berada di kisaran Rp 1.364.401.460 (sekitar Rp1,36 miliar) per koin.

Update Harga Bitcoin Selasa, 19 Mei 2026 

Sepanjang hari ini, pergerakan harga Bitcoin terpantau cukup dinamis dengan ringkasan sebagai berikut:

Harga Pembukaan (00:00 UTC): Rp 1.362.523.643

Titik Terendah Harian: Sempat menyentuh kisaran Rp 1.353.329.305 pada siang hari.

Titik Tertinggi Harian: Sempat menguat hingga Rp 1.366.941.371 sebelum akhirnya terkoreksi tipis ke posisi saat ini.

Secara umum, volatilitas harian Bitcoin hari ini bergerak dalam rentang sekitar 0,1 % hingga 0,3 % dari harga pembukaan awal hari.***

Editor : Ibnu Yunianto
#Dolar AS #kurs rupiah hari ini #ihsg hari ini #bursa efek indonesia #bitcoin