RADAR BALI - Kabar baik akhirnya datang bagi para mitra driver Gojek. Setelah sekian lama diwarnai dinamika dan aspirasi terkait potongan aplikasi yang dirasa memberatkan, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengambil langkah besar yang berpihak pada kesejahteraan lapangan.
Gojek secara resmi memangkas potongan komisi (fee aplikasi) mereka menjadi hanya 8 persen. Langkah berani ini langsung disambut positif karena menjadi oase di tengah situasi ekonomi yang kian menantang.
Selama ini, potongan komisi yang berkisar antara 15 hingga 20 persen kerap menjadi momok bagi para pengemudi ojek online.
Dengan skema lama tersebut, pendapatan yang dibawa pulang sering kali habis tergerus biaya operasional seperti bensin dan perawatan kendaraan.
Namun, dengan kebijakan baru ini, beban tersebut berkurang drastis sehingga pendapatan bersih yang masuk ke kantong driver otomatis menjadi lebih tebal.
Sebagai gambaran nyata, jika seorang driver mendapatkan pesanan dengan tarif Rp 100.000, dalam skema lama potongan aplikasi akan memakan Rp 20.000, sehingga mereka hanya menerima Rp 80.000.
Kini, dengan komisi yang hanya 8 persen, potongan berkurang menjadi Rp 8.000 saja. Artinya, driver bisa membawa pulang pendapatan bersih sebesar Rp 92.000 dari transaksi yang sama.
Selisih Rp 12.000 per transaksi tentu bukan angka yang kecil jika diakumulasikan selama sebulan penuh.
Manajemen Gojek tampaknya menyadari betul bahwa mitra driver adalah ujung tombak keberlangsungan bisnis mereka.
Penurunan komisi ini bukan sekadar strategi untuk meredam keluhan, melainkan langkah taktis untuk menjaga loyalitas ekosistem di tengah ketatnya persaingan industri ride-hailing.
Dengan membuat driver lebih sejahtera, kualitas layanan pun diharapkan ikut meningkat, yang pada akhirnya akan menguntungkan konsumen karena tarif tetap kompetitif.
Respons di lapangan pun sangat terbaca. Berbagai komunitas driver menyatakan kelegaannya atas kebijakan ini. Bagi mereka, penurunan potongan hingga di bawah dua digit adalah bentuk keadilan nyata yang membuat hasil keringat di jalanan menjadi lebih sepadan dengan kebutuhan dapur sehari-hari.
Publik dan para pelaku industri kini menunggu, apakah operator lain akan mengikuti jejak serupa demi menjaga keseimbangan ekosistem mereka, atau tetap bertahan dengan skema lama di tengah migrasi loyalitas mitra yang mulai bergeser.***
Editor : Ibnu Yunianto