RADAR BALI – Kombinasi tekanan geopolitik global dan tingginya harga komoditas energi kian menyudutkan pasar keuangan domestik.
Pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau merosot tajam, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih rawan melanjutkan tren koreksi setelah ambruk signifikan pada hari sebelumnya.
Kondisi eksternal yang belum menentu memaksa para pelaku pasar untuk bersikap lebih defensif di pertengahan pekan ini.
Kurs Rupiah Menguji Batas Psikologis Baru
Tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda. Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) Rabu pagi, rupiah offshore dibuka stagnan di posisi Rp 17.757 per dolar AS, namun dengan cepat melemah sebesar 0,23 persen ke level Rp 17.797 per dolar AS pada pukul 07.25 WIB.
Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari penutupan perdagangan bursa spot Selasa sore, di mana rupiah merosot hingga ke level Rp 17.703 per dolar AS.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah:
Konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran masih membayangi pasar. Eskalasi ini menjaga indeks dolar AS kokoh di level 99,32 dan membuat harga minyak mentah bertahan tinggi di atas 110 dolar AS per barel.
Tingginya harga energi memicu kekhawatiran berlanjutnya inflasi global (imported inflation), yang mempersulit bank sentral untuk memangkas suku bunga acuan.
Berdasarkan keterangan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, kuartal kedua (April–Juni) memang merupakan periode puncak permintaan dolar AS di dalam negeri untuk kebutuhan pembayaran dividen ke luar negeri, pelunasan utang matang, serta pembiayaan ibadah haji.
Bank Indonesia memproyeksikan rupiah baru akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya pada kuartal ketiga (Juli–Agustus).
Prediksi IHSG: Rawan Ambles Uji Area 6.300
Kelesuan di pasar mata uang merembet ke lantai bursa. Setelah ditutup anjlok 3,46 persen ke level 6.370,6 pada perdagangan Selasa kemarin dengan peningkatan volume penjualan yang cukup tinggi, IHSG hari ini diprediksi masih berada dalam zona merah.
Sejumlah lembaga analisis sekuritas memberikan proyeksi yang cenderung berhati-hati terkait arah pergerakan IHSG hari ini.
MNC Sekuritas memperkirakan indeks masih berada dalam posisi rawan koreksi lanjutan. Lembaga ini menetapkan area support di rentang 6.270 hingga 6.148, sementara target resistance dipatok pada kisaran 6.640 hingga 6.745.
Senada dengan proyeksi tersebut, Pilarmas Investindo Sekuritas juga memprediksi laju indeks akan bergerak melemah terbatas. Untuk perdagangan hari ini, Pilarmas Investindo Sekuritas melihat indeks berpotensi menguji titik support di level 6.300 dengan batas resistance di level 6.510.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa posisi pergerakan indeks saat ini menunjukkan kerawanan untuk kembali menguji area support terdekat di 6.307. Jika tekanan jual terus membesar, pelaku pasar patut mewaspadai potensi koreksi lebih dalam menuju rentang 6.084 hingga 6.148.
Senada, PT Pilarmas Investindo Sekuritas menilai indeks hari ini bergerak melemah terbatas pada rentang 6.300 hingga 6.510. Sentimen rebalancing indeks MSCI dan outflow dana asing jangka pendek disinyalir masih menjadi penahan laju penguatan big caps di bursa domestik.
Di tengah kejatuhan indeks kemarin, investor asing justru memanfaatkan momentum koreksi tajam untuk melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 260,1 miliar di seluruh pasar.
Aliran dana asing terpantau masif memburu saham-saham komoditas pertambangan dan energi, terutama PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).***
Editor : Ibnu Yunianto