RADAR BALI – Setelah sempat mengalami tekanan hebat hingga menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah hari ini, Kamis (21/5/2026), mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Pergerakan positif ini terjadi pasca-langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.
Langkah pre-emptive dari bank sentral tersebut direspons positif oleh pasar, sekaligus menjadi jangkar baru untuk menahan depresiasi mata uang Garuda yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah global.
Respons Tegas BI Tahan Pelemahan
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (20/5), rupiah di pasar spot sempat merosot hingga ke level Rp 17.743 per dolar AS.
Pelemahan tajam ini memicu kekhawatiran meluas, terutama terkait potensi membengkaknya biaya impor minyak mentah dan beban subsidi energi pada APBN 2026.
Namun, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang memutuskan untuk mendongkrak BI-Rate ke level 5,25% terbukti menjadi amunisi kuat.
Pada perdagangan hari ini, rupiah berbalik menguat sekitar 0,64%, mencerminkan kembalinya kepercayaan investor terhadap komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas domestik.
Proyeksi Seimbang Menuju Level Baru
Sejumlah ekonom menilai langkah BI ini sangat tepat untuk mengakhiri fase overshooting atau pelemahan yang berlebihan. Dengan respons kebijakan yang tegas, volatilitas nilai tukar diharapkan dapat lebih terkendali.
Indikator Moneter Posisi Pasca-RDG BI
Suku Bunga Acuan (BI-Rate) 5,25 % (Naik 50 bps)
Titik Stabilisasi Awal Ekspektasi Rp 17.300 per dolar AS
Target Keseimbangan Baru Rp 16.800 - Rp 17.000 per dolar AS
Dampak ke Pasar Saham dan Sektor Riil
Sentimen positif dari penguatan rupiah ini langsung menular ke pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat tertekan pada hari sebelumnya terpantau melakukan rebound dan menguat sekitar 0,60% ke kisaran 6.300 hingga 6.450 pada perdagangan hari ini.
Di sisi fiskal, penguatan rupiah ini menjadi angin segar bagi pemerintah. Menteri Keuangan sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah terus mengantisipasi pergerakan kurs dengan simulasi anggaran terbaru untuk memastikan kebutuhan impor energi dan ketahanan fiskal tetap terjaga dengan aman.
Keseriusan BI dalam mengawal rupiah hari ini setidaknya memberikan ruang napas yang krusial bagi stabilitas ekonomi nasional hingga paruh kedua tahun ini.**
Editor : Ibnu Yunianto