Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Badan Ekspor Prabowo Bikin Panik Pasar, IHSG Ambles 2,76 Persen

Dhian Harnia Patrawati • Kamis, 21 Mei 2026 | 13:31 WIB

 

Ilustrasi - Mineral hasil tambang.
Ilustrasi - Mineral hasil tambang.

 

RADAR BALI – Pidato Presiden Prabowo di depan Rapat Paripurna DPR kemarin membuat pasar modal Indonesia berdarah-darah. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk secara dramatis pada penutupan sesi I, mencatatkan penurunan tajam sebesar 2,76% atau terpangkas 174,14 poin ke level 6.144,36.

Padahal, pada pembukaan pagi hari, indeks sempat mencicipi zona hijau dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81 sebelum akhirnya aksi jual masif menyeretnya ke zona merah.

Pelemahan mendalam yang dialami IHSG terasa ironis mengingat mayoritas bursa utama di kawasan Asia Pasifik justru bergerak menguat melesat. Indonesia menjadi titik merah sendirian di tengah reli hijau pasar saham Asia.

Indeks Kospi di Korea Selatan memimpin lonjakan regional dengan melejit luar biasa hingga +8,07%. Langkah impresif ini diikuti oleh indeks Taiwan Weighted yang melesat +3,77% dan indeks Nikkei 225 di Jepang yang melonjak +3,58%.

Tren positif ini juga menjalar ke belahan selatan, di mana indeks ASX 200 Australia ikut menguat +1,67%. Bahkan, bursa tetangga di Asia Tenggara, yakni indeks Straits Times Singapura, masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan +0,31%.

Kontras yang tajam ini mempertegas posisi IHSG yang anjlok sendirian sebesar -2,76% akibat sentimen domestik yang menekan pasar saham dalam negeri.

Efek Rebalancing MSCI dan Kejatuhan Saham Big Caps

Berdasarkan data perdagangan, kejatuhan indeks utamanya dipicu oleh tekanan jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar. Analis menilai hal ini merupakan respons langsung pasar terhadap sentimen rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sektor Utilitas Tertekan Hebat

Sektor utilitas memimpin kejatuhan dengan ambles hingga 8,70%, disusul ketat oleh sektor bahan baku yang rontok 6,53%, serta sektor energi yang melemah 5,44%.

Saham-saham di bawah naungan taipan Prajogo Pangestu menjadi salah satu episentrum tekanan jual dan babak belur hingga masuk ke jajaran top losers:

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Ambles 14,66% ke level Rp 2.270.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Anjlok 12,50%.

PT Petrosea Tbk (PTRO): Melemah 11,50%.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Turun 10,75%.

Saham Batubara, Mineral, dan CPO Kompak Rontok

Beban IHSG kian berat seiring aksi jual masif yang melanda saham-saham sektor komoditas unggulan. Emiten batubara, mineral, hingga kelapa sawit (CPO) kompak rontok berjemaah akibat kombinasi panic selling dan respons negatif terhadap sentimen kebijakan domestik.

Di sektor tambang batubara dan mineral, pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif menyusul rencana kebijakan baru pemerintah mengenai regulasi tata niaga ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) terpadu serta wacana penyesuaian tarif royalti.

Kondisi ini membuat emiten raksasa mineral seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi dalam 6,31%, disusul PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang merosot 6,21%, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melemah 9,23%.

Tekanan ARB (Auto Rejection Bawah) juga menghantam PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang terdepresiasi 14,39% ke posisi Rp 565, sementara induknya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), turut anjlok 6,99%.

Tidak ketinggalan, emiten produsen kelapa sawit (CPO) ikut terseret ke zona merah. Tekanan di sektor ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap aturan baru kewajiban masuknya komoditas ekspor SDA tertentu ke dalam mekanisme pengawasan ketat demi optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE).

Akibat ketidakpastian teknis aturan tersebut, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) melemah 3,33% ke level Rp 6.525, sementara PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) ambles signifikan hingga 7,08% ke posisi Rp 1.775.

Sentimen domestik juga masih dibayangi oleh langkah agresif Bank Indonesia yang dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terbaru memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps menjadi 5,25%.

Meskipun kebijakan kenaikan suku bunga ini diambil demi memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang berada di kisaran Rp 17.600-an per Dolar AS, kenaikan biaya modal yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar (konsensus sebelumnya di level 5%) secara jangka pendek memberikan tekanan tambahan bagi laju ekspansi emiten di bursa.

Hingga jeda siang, perdagangan berlangsung sangat masif dengan volume transaksi mencapai 18,85 miliar saham dan nilai transaksi menembus Rp 9,77 triliun.

Sebanyak 633 saham bergerak melemah, berbanding terbalik dengan hanya 126 saham yang mampu menguat, sementara 200 saham lainnya stagnan. Akibat koreksi dalam ini, total kapitalisasi pasar bursa domestik menyusut ke angka Rp 10.618 triliun.***

Editor : Ibnu Yunianto
#badan ekspor #Pasar Modal #ihsg #bi rate #pidato prabowo