RADAR BALI – Di tengah bayang-bayang badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda sektor manufaktur nasional, situasi ketenagakerjaan di Provinsi Bali sepanjang Mei 2026 menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan kondusif.
Kendati Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Pulau Dewata tercatat naik tipis, jumlah absolut masyarakat yang tidak bekerja justru mengalami penurunan.
Berdasarkan rilis data makro mutakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, TPT Bali posisi Februari 2026 bergerak tipis ke angka 1,59 %. Angka ini naik 0,01 % dibandingkan dengan periode Februari 2025 yang berada di posisi 1,58%.
Uniknya, kenaikan persentase ini tidak linier dengan jumlah riil penganggur. Data BPS menunjukkan jumlah absolut penganggur di Bali sebenarnya menyusut dari 43,13 ribu orang pada tahun lalu menjadi 42,32 ribu orang pada Februari 2026.
"Menurun jumlahnya dari 43,13 ribu menjadi 42,32 ribu. Memang demikian secara persentase mengalami peningkatan dari 1,58 menjadi 1,59," ujar Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan.
Secara rinci, pergeseran angka pengangguran berdasarkan jenis kelamin menunjukkan dinamika yang berbeda. TPT Laki-laki: Meningkat dari 1,74% menjadi 1,95% sedangkan TPT Perempuan berhasil ditekan turun dari 1,39% menjadi 1,18%.
Di tingkat daerah, Kota Denpasar bahkan mencatatkan performa gemilang dengan penurunan angka pengangguran yang signifikan, dari 2,11% menjadi 1,41% pada tahun 2026.
Partisipasi Angkatan Kerja Berkurang
Selain fluktuasi angka kemiskinan dan pengangguran, BPS Bali juga menyoroti penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Posisi TPAK Bali pada Februari 2026 berada di angka 74,63%, turun cukup dalam dibandingkan Februari 2025 yang sempat menyentuh 77,40%.
Penurunan partisipasi ini terjadi secara kompak pada kedua kelompok gender. TPAK laki-laki merosot dari 83,45% menjadi 80%, sedangkan TPAK perempuan turun dari 71,39% menjadi 69,30%.
Agus Gede Hendrayana menjelaskan bahwa dari total Penduduk Usia Kerja di Bali yang mencapai 3,56 juta orang, jumlah yang aktif dalam angkatan kerja adalah 2,66 juta orang. Sisanya, sekitar 0,90 juta orang, masuk dalam kategori bukan angkatan kerja.
BPS menegaskan fenomena ini bukan disebabkan oleh gelombang PHK massal melainkan karena melanjutkan pendidikan atau mengurus rumah tangga. "Jadi hanya sebagian kecil yang karena mengalami PHK," jelas Agus Gede.
Bali Imun dari Badai PHK Manufaktur Nasional
Kondisi ketenagakerjaan Bali yang stabil ini berbanding terbalik dengan situasi nasional. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat adanya lonjakan PHK nasional hingga 84% pada periode Januari–April 2026, yang didominasi oleh rontoknya sektor manufaktur di Pulau Jawa.
Bali relatif aman dari hantaman tersebut karena struktur ekonominya ditopang kuat oleh sektor jasa dan pariwisata yang saat ini tengah menikmati masa pemulihan dengan tingkat okupansi yang tinggi.
Meski demikian, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali tetap memasang sikap waspada terhadap dinamika global.
Pemerintah daerah terus memitigasi dampak rembesan konflik geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan efisiensi anggaran MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dari pemerintah pusat.
Kebijakan efisiensi tersebut sempat memicu riak PHK kecil pada ratusan pekerja hotel dan restoran di wilayah Badung pada periode sebelumnya.
Gelar Bursa Kerja Pasca May Day
Untuk mengantisipasi para pencari kerja baru (fresh graduates) serta pekerja yang terdampak efisiensi, pemerintah daerah di Bali bergerak cepat dengan menyiapkan ruang penyerapan tenaga kerja baru melalui rangkaian bursa kerja (job fair).
Langkah taktis ini diwujudkan dalam dua agenda bursa kerja utama di wilayah Bali yang menyasar periode Mei hingga Juni 2026.
Agenda pertama adalah Job Fair Universitas Ngurah Rai (UNR) yang berlangsung pada 15–16 Mei 2026, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WITA.
Selain itu, terdapat pula Job Fair DTIK Fest Kota Denpasar yang diselenggarakan sejak akhir Februari hingga Mei 2026 sebagai bagian dari rangkaian HUT Kota Denpasar.
Bertempat di Gedung Dharma Alaya Lumintang, Denpasar, Dinas Tenaga Kerja Kota Denpasar menghadirkan sekitar 2.600 lowongan kerja baru untuk penempatan dalam negeri maupun luar negeri.
Melalui berbagai langkah taktis berupa pembukaan bursa kerja ini, pemerintah daerah diharapkan mampu menjaga ritme penguatan ekonomi lokal.
Upaya ini sekaligus memastikan bahwa riak kecil pengangguran di Bali tidak berkembang menjadi krisis ketenagakerjaan yang mengkhawatirkan di masa depan.***
Editor : Ibnu YuniantoSumber : Radar Bali